•   03 December 2021 -

Satwa Kerang Kepah Asli Sungai Santan Diklaim Punah, Disinyalir Akibat Tambang Batu Bara

Kaltim - Redaksi
27 September 2021
Satwa Kerang Kepah Asli Sungai Santan Diklaim Punah, Disinyalir Akibat Tambang Batu Bara Peringatan Hari Sungai Sedunia di Sungai Santan oleh Kelompok Tani Muda Santan/Ist

KLIKKALTIM.COM - Aktivitas tambang batu bara di sekitar Sungai Santan, Kecamatan Marang Kayu, Kutai Kartanegara disinyalir menjadi penyebab fauna endemik, Kerang Kepah punah. 

Kerang sungai berukuran besar ini dulunya menjadi fauna di ekosistem Sungai Santan. Saat jumlahnya melimpah kerang ini menjadi santapan khas warga Desa Santan Tengah. 

Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Santan merupakan salah satu bagian dari Daerah Aliran Sungai Karangan dengan panjang sungai 78,0 km yang membentang dari Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara. 

Pada tahun 1980 sampai 2000an, sebelum akses jalan raya menghubungkan Desa Santan mayoritas penduduk memanfaatkan sungai santan sebagai moda transportasi air untuk mengangkut hasil pertanian seperti kelapa, kakau, kopi, koprah, pisang dan hasil bumi lainya ke Samarinda dan Bontang.

Ketua Tani Muda Santan, Taufik Iskandar menjelaskan, Sungai Santan menjadi bagian dari kebudayaan warga sejak lama. Ini terlihat dari bentuk rumah warga yang menghadap ke sungai.

Sungai santan yang mengalir dari hulunya berada dikawasan Taman Nasional Kutai dan Muaranya ke Selat Makasar. 

Taufik menyebutkan, hubungan erat warga setempat dengan sungai pelan-pelan pudar sejak lingkungannya rusak. 

Aktivitas perusahaan tambang sejak 1997 lalu disebut-sebut menjadi faktor utama DAS Santan dan ekosistemnya rusak. 

Taufik merinci, akibat dari eksplorasi tambang di hulu mengakibatkan perubahan tata air daerah sekitar, semakin keruhnya air permukaan di sekitar lokasi pertambangan serta menurunnya kualitas air sungai.

Proses tersebut dalam jangka panjang akan menyebabkan pendangkalan alur sungai yang menimbulkan banjir di tiga desa santan ulu, tengah dan ilir, hingga hilangya ruang ekonomi nelayan sungai karena hasil tangkapan semakin berkurang 

"Semenjak dijadikannya Sungai Santan sebagai media pembuangan air dari settling pond limbah penambangan batubara yang disalurkan ke badan sungai santan, tercatat sudah 11 orang tewas diterkam buaya. Karena habitat buaya tercemar, kondisi ini terjadi karena hulu sungai santan yang seharusnya menjadi kawasan penyangga berubah menjadi tempat kegiatan pengerukan pertambangan," beber Taufik dalam keterangan persnya dalam peringatan Hari Sungai Sedunia, Minggu (26/9/2021). 

Klik Bontang sudah mengkonfirmasi perusahaan, PT Indominco Mandiri melalui staf eksternal, Yulianus. 

Namun, perusahaan enggan berkomentar terkait pernyataan yang disuarakan Tani Muda Santan. "Manajemen tidak mau berkomentar mas," ungkapnya. 




TINGGALKAN KOMENTAR