Onder Van Distrik Bontang; Penamaan Belanda dalam Sejarah Bontang

History - Redaksi Klik Kaltim
06 Desember 2020
Onder Van Distrik Bontang; Penamaan Belanda dalam Sejarah Bontang Potret Bontang Kuala tempo dulu/Bontang Kreatif

KLIKKALTIM.COM – Sejarah Bontang dimulai dari sebuah perkampungan kecil yang hidup di daerah aliran sungai. Dari catatan sejarah yang dirangkum, nama Bontang sudah dikenal sejak 1920. Penamaan Bontang pun tercatat dalam Bahasa Belanda Onder Distrik Van Bontang.

Dikutip Zulkifli Yusuf dalam bukunya, (Mengenal Sejarah Santan, K.H. MUHAMMAD SHALEH. Dakwah dan Pengembangan Ekonomi Rakyat :2018) menuturkan, warsa 1920an Bontang dipimpin pleh Asisten Wedana yang bergelar kiyai.

Wedana merupakan jabatan setingkat kepala daerah. Saat ini posisi asisten wedana, setingkat dengan asisten wali kota.  Dari buku itu, disebutkan kiyai yang pernah memimpin di Bontang diantaranya, Kiyai Anang, Kempeng, Kiyai Hasan, Kiyai Aji Raden, Kiyai Anang Acil, Kiyai Menong, Kiyai Yaman dan Kiyai Saleh.

“Sebagai kawasan pemukiman, sebelum menjadi sebuah kota, status Bontang meningkat menjadi kecamatan di bawah pimpinan seorang asisten wedana dalam pemerintahan Sultan Aji Muhammad Parikesit, Sultan Kutai Kartanegara XIX (1921-1960),” tulis Zulkifli (2018:49).

Penamaan Bontang, masih dari buku ini, memiliki 2 sumber. Versi pertama disebut nama Bontang berawal dari akronim Bond dan Tang. Bond dari bahasa Belanda yang berarti Ikatan atau persaudaraan, sedangkan Tang bermakna pendatang.

Tetapi dari hasil penelusuran klikkaltim.com, kami tidak menemui makna penamaan Bond dan Tang dalam perbendaharaan bahasa Belanda.

Bontang di tahun 70an/Bontang kreatif

Dari versi lainnya, Bontang berasal dari bahasa Melayu bebulang datang, artinya ada tiga orang yang datang dengan menggunakan tutup kepala dengan dililitkan kain panjang atau sorban. Dari situlah awal nama Bontang disebut. 

Dari sisi pemerintahan, model pemerintahan di Bontang dibagi menjadi 2 otoritas. Untuk urusan pemerintahan dijabat oleh Kepala Kampung. Sedangkan terkait moral dan adat istiada diatur oleh tetua adat.

Bontang pada awalnya memiliki tata pemerintahan yang sangat sederhana. Semula hanya dipimpin oleh seorang yang dituakan, yang bergelar Petinggi di bawah naungan Kesultanan Kutai di Tenggarong. Nama-nama petinggi Bontang adalah: Nenek H. Tondeng, Muhammad Arsyad yang kemudian diberi gelar oleh Sultan Kutai sebagai Kapitan, Kideng dan Haji Amir Baida alias Bedang

Status Bontang meningkat menjadi kecamatan di bawah pimpinan seorang asisten wedana dalam pemerintahan Sultan Aji Muhammad Parikesit, Sultan Kutai Kartanegara XIX (1921-1960), setelah ditetapkan Undang-undang No. 27 Tahun 1959 tentang pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan Timur dengan menghapus status Pemerintahan Swapraja.

TINGGALKAN KOMENTAR