•   29 May 2026 -

PT. Borneo Grafika Pariwara

Jl. Kapt Pierre Tendean, RT 02 No 9, Kelurahan Bontang Baru
Kecamatan Bontang, Kota Bontang, Kaltim - 75311

Warga Pilih Bertahan dan Bertaruh Nyawa di Tengah Ancaman Longsor, Berharap Pemkot Bontang Datang Membantu

Bontang - M Rifki
29 Mei 2026
 
Warga Pilih Bertahan dan Bertaruh Nyawa di Tengah Ancaman Longsor, Berharap Pemkot Bontang Datang Membantu Kondisi rumah warga di Kampung Timur RT 1 Kelurahan Kanaan yang terancam longsor.

BONTANG – Warga Kampung Timur RT 1 Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat, kini tak lagi tenang dalam tidurnya setiap waktu. 

Setiap hujan turun rasa takut ancaman bencana longsor menghantui mereka. Tanah yang perlahan bergerak membuat rumah-rumah sederhana di tepi tebing itu seakan menunggu waktu menimpa bangunan. 

Namun di tengah ancaman itu, Katinem (55) memilih tetap bertahan dan mengabaikan permintaan Pemkot Bontang untuk mengungsi. 

Ia bersama suami dan anaknya ia menolak meninggalkan rumah tempat mereka berteduh serta menyimpan cerita hidup dan menggantungkan harapan.

Bagi Katinem, rumah kecil itu bukan sekadar bangunan kayu dan semen. Di sanalah keluarganya hidup dan mencari nafkah. Jika harus pindah ke rumah susun seperti solusi yang ditawarkan kehidupan mereka justru terasa semakin sulit.

Suaminya harus menempuh jarak lebih jauh untuk bekerja demi mencari uang. Belum lagi rasa nyaman yang hilang karena harus tinggal jauh dari lingkungan yang selama ini menjadi bagian hidup mereka.

Dengan suara lirih, Katinem mengaku sudah menghabiskan banyak uang demi mempertahankan rumahnya dari ancaman longsor. Dari hasil ganti rugi aktivitas galian C ilegal.

Ia menggunakan Rp2.550.000 untuk meninggikan lantai rumah. Ditambah lagi Rp10 juta dipakai memperbaiki plafon dan bagian rumah lainnya agar tetap layak ditempati.

Namun perjuangan itu terasa belum cukup. Sisa uang ganti rugi sebesar Rp5 juta hingga kini belum juga dibayarkan. Janji demi janji hanya datang tanpa kepastian.

Ini kali kedua warga harus menahan kesedihannya harus tinggal di area rawan longsor. Pada Januari 2026 lalu longsor begitu besar terjadi. 

Barang elektronik ludes terendam lumpur. Kemudian akaes jalan lumpuh serta tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan. 

Sejak itu tak ada sentuhan perbaikan dari Pemkot Bontang. Kala itu hanya bantuan Anggota DPRD Kota Bontang Joni Alla Padang yang membantu menanggul tebing dengan karung jumbo. 

Tanggul itu saat ini jebol. Ditambah dengan cuaca hujan ekstrem jadi ancaman yang terus menghantui mereka. 

“Saya menolak lah mas untuk diungsikan. Enak tinggal di rumah sendiri. Mending Pemkot Bontang fokus buatkan kami drainase. Mencegah longsor semakin parah,” ucap Katinem. 

Nasib serupa juga dirasakan Yati (62). Ia memilih tetap tinggal bersama sang suami yang telah lama menderita stroke. Di usia senja, mereka justru harus menghadapi ketakutan baru setiap kali tanah di belakang rumah mulai retak.

Padahal demi mempertahankan tempat tinggal itu, Yati rela menjual kebun miliknya. Uang hasil penjualan digunakan untuk merenovasi rumah yang nyaris rusak akibat longsor.

Tak sedikit biaya yang ia keluarkan. Hampir Rp80 juta habis untuk meninggikan lantai, membangun ulang dinding, hingga memperbaiki atap rumah mereka.

Kini, rumah itu memang masih berdiri. Tapi rasa aman sudah lama hilang.Di kawasan tersebut terdapat lima kepala keluarga yang sampai hari ini masih menunggu perhatian dan penanganan serius dari pemerintah. Mereka berharap ada pembangunan penahan tebing permanen dan perbaikan drainase agar longsor tidak terus meluas.

Ironisnya, saluran drainase yang sebelumnya sempat digali kini kembali tertutup lumpur tebal akibat longsoran beberapa waktu lalu.

“Saya bangun ulang rumah sampai jual kebun loh. Masa Pemkot Bontang tidak mau bantu kami. Ini lah hasilnya kalau tambang galian C dibiarkan tanpa penindakan, dampaknya ke kami,” tutur Yati. 

Di tengah ancaman longsor yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa mereka, warga hanya ingin satu hal sederhana merasa aman di rumah sendiri.






TINGGALKAN KOMENTAR