•   17 July 2026 -

PT. Borneo Grafika Pariwara

Jl. Kapt Pierre Tendean, RT 02 No 9, Kelurahan Bontang Baru
Kecamatan Bontang, Kota Bontang, Kaltim - 75311

Resah Lihat Sampah Menumpuk, Warga Loktuan Berhasil Rakit Alat Pengolah Plastik Jadi Bahan Bakar

Bontang - M Rifki
16 Juli 2026
 
Resah Lihat Sampah Menumpuk, Warga Loktuan Berhasil Rakit Alat Pengolah Plastik Jadi Bahan Bakar Muhammad Hasyim menunjukkan alat pirolisis buatannya untuk mengolah sampah plastik menjadi minyak pirolisis. (Klik Kaltim)

BONTANG – Berawal dari rasa jenuh melihat persoalan sampah plastik yang tak kunjung teratasi, Muhammad Hasyim memilih mencari solusi dengan caranya sendiri. Warga Jalan Pinisi 4, RT 45, Kelurahan Loktuan, Bontang Utara itu berhasil merakit alat pirolisis sederhana yang mampu mengubah limbah plastik menjadi minyak pirolisis (oil pyrolysis).

Pria yang akrab disapa Hasyim itu mengaku ide tersebut sebenarnya sudah lama ia pikirkan. Namun, keterbatasan biaya membuatnya baru bisa merealisasikan alat tersebut setelah dana yang dibutuhkan terkumpul.

"Idenya sudah lama. Baru sekarang bisa dibuat karena dananya baru terkumpul. Alatnya juga baru tiga hari diuji coba dan sudah menghasilkan minyak pirolisis," ujarnya.

Alat yang dirakit Hasyim memanfaatkan barang-barang bekas seperti drum, pipa besi, hingga pipa HDPE. Ia hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp1,5 juta untuk membeli sambungan pipa dan perlengkapan instalasi lainnya.

Menurut Hasyim, kegelisahannya muncul karena sampah plastik masih mendominasi timbulan sampah di Bontang. Padahal, pemerintah telah memiliki regulasi terkait pengurangan sampah plastik, seperti Peraturan Wali Kota Bontang Nomor 30 Tahun 2018 yang diperkuat dengan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah.

"Aturannya sudah ada. Tapi buktinya sampah plastik masih beredar di mana-mana. Itu menunjukkan implementasinya belum konsisten," katanya.

Belajar Secara Otodidak

Lahir di Pasuruan, Jawa Timur, pada 24 Juli 1974, Hasyim mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan teknik. Ia hanya lulusan SMA dan mempelajari teknologi pirolisis secara mandiri melalui jurnal ilmiah serta video tutorial di internet.

"Saya hanya lulusan SMA. Semua saya pelajari sendiri. Yang penting dicoba dulu. Nanti hasilnya bisa diuji bersama. Kalau tidak ada yang mulai, sampah plastik akan terus menumpuk," ungkapnya.

Meski demikian, ia menyadari hasil minyak pirolisis yang diproduksi masih memerlukan pengujian ilmiah. Saat ini alat buatannya bekerja pada suhu sekitar 150 derajat Celsius, sementara proses pirolisis yang ideal umumnya dilakukan pada suhu yang lebih tinggi.

Berpotensi Menjadi Bahan Bakar

Hasyim menjelaskan, di beberapa negara, termasuk Thailand, minyak pirolisis telah dimanfaatkan sebagai bahan bakar kendaraan setelah melalui proses pemurnian dan pencampuran.

Menurutnya, kualitas minyak pirolisis dipengaruhi jenis plastik yang digunakan sebagai bahan baku serta suhu pembakaran. Nilai angka oktannya bahkan dapat berada pada kisaran RON 88 hingga RON 102.

Dalam uji coba yang dilakukannya, sekitar 20 kilogram sampah plastik mampu menghasilkan kurang lebih dua liter minyak pirolisis.

"Kalau nanti sudah ada kajian ilmiahnya, tinggal bagaimana diimplementasikan. Kemarin saya membakar 20 kilogram sampah plastik dan menghasilkan sekitar dua liter minyak pirolisis," pungkasnya. (*)






TINGGALKAN KOMENTAR