Surat Kaleng Digital & Pengakuan Napi yang Pernah Disiksa di Lapas Bontang

Bontang - Asriani
16 Oktober 2020
Surat Kaleng Digital & Pengakuan Napi yang Pernah Disiksa di Lapas Bontang Ilustrasi Narapidana/int

KLIKKALTIM.COM -- Postingan akun facebook @napipernahdisiksa di grup jual beli Bontang mendapat atensi. Akun anonim itu membeberkan, perlakuan kasar sipir di Lapas Bontang kepada narapidana.

Saya publikasikan begini, supaya pegawai sipilnya bisa didik kami bukan untuk disiksa tapi untuk dibina. Biar kelakuan kita bisa berubah tapi kenyataanya kami disiksa. Saya pernah korban, makanya saya minta disidak jangan lagi ada korban yang lain. Selain saya seandainya orang mati dipukul kira-kira mau tidak pegawai sipil Lapas Bontang tanggung jawab. Kami bukan binatang, kami harus didik agar tidak mengulangi kesalahan lagi.

postingan akun facebook @napipernahdisiksa

Klik Kaltim mencoba konfirmasi ke akun itu, Kamis (15/10). Namun, hingga kini belum mendapat tanggapan dari sang pemilik akun.

Pun demikian, klikkaltim menggali informasi dari narasumber eks narapidana di Lapas Bontang. Inisialnya-don- sengaja disamarkan demi kenyamanan narasumber.

Don ini pernah mendekam di balik sel penjara Lapas Bontang, akhir 2015 lalu akibat kasus kriminal. Sedari awal, ia sudah merasakan perihnya rotan dari petugas sipir.

Kejadian serupa kembali lagi dia alami. Setahun sebelum bebas, petugas kembali memukuli badannya. Namun, ia tak sendiri. Satu sel kamarnya merasakan siksaan petugas.

Penyebabnya, lantaran seusai bersih-bersih salah seorang temannya lupa mengembalikan perkakas dan disimpan di dalam kamar sel.

"Kita dikumpulkan semua, baru dihajar, ditendang dan dipukul rotan" bebernya.

"Di kamar itu tidak dibolehkan senjata tajam, pada saat itu ada senjata tajam di kamar lain," imbuhnya.

Selama 4 tahun mendekam di Lapas Bontang, rutinitas harian Don banyak dihabiskan dengan membuat kerajinan tangan. Memanfaatkan serbuk kayu dan plastik dirangkai menjadi sebuah karya seni, semisal patung naga ataupun udang dari plastik.

Setiap hari, rutin digelar senam pagi. Namun digilir per blok, kebetulan Don mendapat giliran setiap Jumat.

Dari pengakuannya pula, diketahui ada bisnis gelap dari balik sel penjara. Ponsel tanpa kamera, dibayar sewa dengan tarif Rp 1,2 juta per bulan. Sedangkan untuk ponsel android dipungut tarif Rp 50 ribu untuk 30 menit pemakaian.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Lapas Kelas II Bontang, Ronny Widiyatmoko, membantah soal tudingan adanya perlakuan kasar terhadap mantan narapidana.

Ia menanggapi terkait postingan di media sosial. Menurutnya, aduan itu tak bisa dibuktikan lantaran tak mengungkap secara jelas kejadian kekerasan itu. Apalagi akun tersebut tak mencantumkan identitas secara benar alias anonim.

"Padahal kami telah memberikan sarana pengaduan bagi yang memiliki permasalahan apapun terhadap Lapas, terkait pelayanan publik kami, baik via telepon atau langsung pada jam kerja," imbuhnya.

Kata Kalapas Ronny, semua bentuk dengan kekerasan di dalam Lapas sudah lama ditinggalkan. Pun metode pembinaan saat ini lebih menekankan pada pemberdayaan, bukan kerangkeng dan disiksa.

“Saat ini bukan lagi pemenjaraan, melainkan pemasyarakatan yang bentuknya pembinaan, bukan penyiksaan,” ungkapnya.

 

TINGGALKAN KOMENTAR