Penyebab Murid Vidatra Keracunan MBG Terungkap; Ditemukan Bakteri di Ayam Kemangi, Waktu 10 Jam Makanan Jadi Sorotan
Ruangan Laboratorium Kesehatan Daerah Kota Bontang (Klik Kaltim).
BONTANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang mengungkap penyebab 56 siswa SD dan SMP Vidatra mengalami keracunan setelah menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) karena tercemar bakteri patogen.
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya bakteri patogen pada salah satu menu MBG yang dibagikan pada Senin (10/8/2026) lalu.
Kepala Dinkes Bontang Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan, pemeriksaan dilakukan terhadap empat sampel menu yang dibagikan kepada para penerima manfaat.
Keempat menu tersebut yakni ayam suwir kemangi, nasi uduk, tahu goreng, serta tumis wortel dan kates.
"Hasil pemeriksaan mikrobiologi, dari empat sajian itu, ayam suwir kemangi positif terdapat bakteri patogen," kata Toetoek melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bontang, Sudirman.
Dari hasil pemeriksaan tersebut, Dinkes kemudian menelusuri kemungkinan sumber kontaminasi bakteri pada makanan yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Selatan 5.
Sudirman menjelaskan, kontaminasi dapat terjadi pada sejumlah tahapan, salah satunya ketika proses pemorsian makanan.
Saat inspeksi mendadak (sidak), petugas mendapati tempat pendinginan makanan dan proses pemorsian dilakukan dalam satu ruangan.
Selain itu, penggunaan kemangi mentah dalam proses memasak juga menjadi salah satu faktor yang diperiksa.
"Ini bisa muncul saat proses memasak menggunakan kemangi mentah. Hasil pemeriksaan air yang digunakan untuk mencuci sayuran juga akan kami lihat," jelasnya.
Dinkes menerangkan lebih lanjut penyebab munculnya bakteri berasal dari penggunaan ayam beku atau frozen. Namun, dugaan tersebut masih akan ditindaklanjuti bersama instansi terkait.
"Nah kalau ini kami koordinasi dengan DKP3. Penggunaan ayam frozen juga perlu dievaluasi," ungkapnya.
Durasi Makanan Dimasak
Selain itu Dinkes menyoroti lamanya waktu antara proses memasak hingga makanan dikonsumsi penerima manfaat juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
"Kalau kami lihat, ini juga bisa disebabkan proses memasak sampai ke penerima manfaat membutuhkan waktu yang lama. Bahkan bisa sampai 10 jam. Ini juga mungkin menjadi faktor utamanya," ungkapnya.
Bakteri Patogen Bisa Tidak Menimbulkan Gejala
Dinkes menjelaskan, keberadaan bakteri patogen tidak serta-merta membuat seluruh penerima makanan mengalami gejala keracunan.
Kondisi tersebut bergantung pada daya tahan tubuh masing-masing penerima manfaat. Pada anak dengan kondisi kekebalan tubuh yang baik, bakteri yang masuk ke tubuh belum tentu langsung menimbulkan gejala.
Namun, pada sebagian penerima manfaat dapat muncul keluhan seperti sakit kepala dan sakit perut.
"Memang bisa juga ada keluhan yang muncul, seperti sakit kepala dan sakit perut. Makanya kemarin 30 orang di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit. Bahkan 13 orang harus menjalani rawat inap," ujarnya.
Hasil pemeriksaan laboratorium tersebut selanjutnya akan dilaporkan secara berjenjang hingga ke Badan Gizi Nasional (BGN).
Laporan itu nantinya menjadi bahan evaluasi terhadap proses pengolahan hingga pendistribusian menu MBG.
"Kami akan teruskan laporan ini. Semoga hasil ini bisa menjadi bahan evaluasi," pungkasnya.
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: