•   31 October 2026 -

PT. Borneo Pariwara Mandiri

Jl. Mulawarman, Gang Arumbia 1, Kelurahan Bontang Baru,
Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang, Kaltim - 75311

Pasokan Tak Cukup Penuhi Kebutuhan Nelayan, SPBN Tanjung Limau Terpaksa Tutup 

Bontang - M Rifki
30 Oktober 2026
 
Pasokan Tak Cukup Penuhi Kebutuhan Nelayan, SPBN Tanjung Limau Terpaksa Tutup  Antrean pengisian BBM solar subsidi nelayan di TPI Tanjung Limau, Jalan MH Thamrin. (Klik Kaltim)

BONTANG – Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di Tanjung Limau tak melayani pembelian solar subsidi pada Jumat (30/10/2026).

Informasi itu disampaikan Pengelola SPBN, Ekawati. Dia mengatakan, penutupan dilakukan karena pasokan solar subsidi di Bontang tidak cukup untuk melayani seluruh nelayan yang telah mengantre selama berhari-hari.

Penutupan operasional SPBN juga telah disampaikan kepada para nelayan melalui grup komunikasi.

"Benar, hari ini tutup. Pasokan tidak memenuhi kuota. Jadi, kami tunggu pasokan full baru kami jual," ucap Ekawati.

Lebih lanjut, penutupan diprediksi berlangsung hingga Senin (2/11/2026) mendatang, sampai kekurangan pasokan kuota dapat terpenuhi dari Pertamina.

"Kami tidak ingin situasi carut-marut. Kami juga hanya operator. Stok juga tidak cukup memenuhi kebutuhan nelayan," sambungnya.

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Kota Bontang akhirnya angkat bicara ihwal pembatasan kuota BBM subsidi jenis solar untuk nelayan sejak sepekan terakhir akibat keterbatasan pasokan.

Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Bontang, Syamsu Wardi, mengatakan berdasarkan catatannya, SPBN Tanjung Limau sempat tidak menjual solar subsidi sejak Sabtu (24/10) hingga Selasa (27/10/2026).

Akibatnya, permintaan kebutuhan BBM subsidi nelayan mencapai 28 ton. Sementara itu, pasokan solar subsidi harian yang diterima SPBN Tanjung Limau baru kembali tersedia pada Rabu (28/10/2026) dengan jumlah hanya 8 ton.

Dengan demikian, daftar tunggu pembelian nelayan masih menyisakan kekurangan pasokan sebanyak 20 ton. Alhasil, DKP3 mengambil inisiatif meminta kesepakatan nelayan untuk memprioritaskan pembelian bagi kapal yang sudah bersandar sejak 24 Oktober.

"Kalau dibiarkan bisa baku hantam nelayan. Jadi, kami ambil langkah antre sesuai jadwal sandar awal. Kemudian stoknya dibagi atas kesepakatan. Saat ini masih minus 20 kiloliter," ucap Syamsu Wardi.






TINGGALKAN KOMENTAR