Suhu Capai 36 Derajat, Dinkes Kaltim Ingatkan Warga Waspada Heatstroke di Musim Kemarau
Kepala Dinkes Samarinda, dr Ismed Kusasih
KLIKKALTIM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mengingatkan masyarakat mewaspadai risiko sengatan panas atau heatstroke seiring cuaca panas yang masih berlangsung.
Kondisi tersebut dapat berbahaya apabila tubuh mengalami dehidrasi dan tidak mampu mengatur suhu akibat paparan panas berlebih.
Kepala Dinkes Samarinda, dr Ismed Kusasih, mengatakan pencegahan utama menghadapi cuaca panas adalah menjaga kecukupan cairan tubuh. Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan juga diminta mengurangi paparan matahari langsung serta menggunakan perlindungan yang sesuai.
“Yang paling penting sebenarnya adalah jangan sampai terjadi dehidrasi. Kalau terjadi dehidrasi, menghindarinya pasti rehidrasi, jadi harus cukup minum,” ujar Ismed (21/8/2026).
Ia menjelaskan, heatstroke terjadi ketika tubuh mengalami peningkatan suhu akibat paparan panas dan kehilangan kemampuan untuk
mendinginkan diri.
Pada kondisi berat, seseorang bisa mengalami gangguan sirkulasi darah hingga kehilangan kesadaran.
“Yang mulai terjadi hal serius, tiba-tiba kan orang bisa pingsan. Nah ini yang rawan,” katanya.
Ismed menyebut suhu udara di Samarinda dalam beberapa hari terakhir berada pada kisaran 35–36 derajat Celsius.
Meski cukup tinggi, kondisi tersebut belum masuk kategori suhu ekstrem yang biasanya lebih berisiko memicu heatstroke berat.
Menurutnya, risiko lebih besar terjadi pada masyarakat yang beraktivitas lama di bawah terik matahari tanpa cukup asupan cairan.
Karena itu, warga disarankan menghindari waktu dengan paparan panas tertinggi dan segera beristirahat jika mulai merasakan keluhan.
Berdasarkan informasi BMKG, Agustus menjadi periode dengan suhu paling panas, sementara musim kemarau masih berlangsung hingga September. Kondisi kekeringan diperkirakan mulai menurun pada Oktober.
Meski cuaca panas masih terjadi, Dinkes Samarinda belum mencatat adanya peningkatan kasus penyakit yang berkaitan langsung dengan kondisi tersebut. Termasuk kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang masih berada dalam pola normal.
“Kalau ISPA mau cuaca panas atau tidak memang terjadi sebagai penyakit yang dominan. Angka kesakitan di musim panas ini seperti biasa, tidak ada peningkatan yang luar biasa,” tutur Ismed.
Ia meminta masyarakat tidak mengabaikan kebutuhan cairan tubuh selama periode panas berlangsung.
“Ini penting agar dehidrasi tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius seperti *heatstroke,” demikian Ismed.
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: