Liputan Khusus HIV
Di Balik Meningkatnya Kasus HIV di Kaltim: Cerita Boti, Stigma, dan Upaya Bertahan Hidup
Ilustrasi AI
Di sebuah rumah kayu reot, Romeo-bukan nama sebenarnya- bertahan dari HIV. Stigma masyarakat atas penyakitnya membuat sakit kian menjadi, bukan hanya merenggut kesehatan pun ekonominya terdampak.
---
BONTANG – Rumah sudut kota, di pelosok dengan tak banyak tetangga, Romeo-bukan nama sebenarnya hidup sebatang kara. Orang tuanya tak ada pun istri dan anak tak punya. Romeo menyendiri karena malu dengan penyakit HIV yang diderita.
Pemuda berusia 33 tahun ini bertubuh tinggi sekitar 170 sentimeter, berat badannya pernah menyusut hingga 50 kilogram. Tubuhnya kurus dan tidak terurus. Bobotnya sempat menyusut hampir separuh sejak divonis mengidap HIV empat tahun lalu.
Virus HIV tak datang begitu saja. Romeo mengaku tertular setelah sekitar dua tahun menjalin asmara dengan pasangan sesama jenisnya. Di kalangan masyarakat, sebagian orang mengenal kelompok lelaki seperti Romeo dengan sebutan Boti. Istilah Boti merujuk pada perilaku seksualnya, Boti berasal dari kata “bottom” atau yang berperan sebagai feminin sedangkan pasangannya disebut “Top”.
Kini ia rutin menjalani terapi menggunakan obat Antiretroviral (ARV). Saban hari obat itu harus diminum, setiap bulan pula ia rutin mengambil di puskesmas.
ARV bekerja menekan perkembangbiakan virus sehingga sistem kekebalan tubuh tetap terjaga. Romeo pernah menghentikan konsumsi obat tersebut selama sekitar satu tahun. Tak lama kemudian, ia didiagnosis menderita Tuberkulosis (TBC). Sejak saat itu, ia tak pernah lagi melewatkan terapi ARV. Perlahan kesehatannya membaik dan berat badannya mulai kembali bertambah.
Di rumah kayu berukuran sekitar 5 x 6 meter itu, Romeo menghabiskan hari-harinya seorang diri. Lantainya beralas tikar plastik. Atap rumah belum dipasangi plafon. Di ruang tengah hanya ada sebuah lemari bufet tanpa televisi. Dinding tripleks tampak menghitam akibat asap dari tungku kayu bakar. Tak terlihat kompor maupun lemari es. Satu-satunya barang berharga yang mencolok hanyalah sebuah helm di atas bufet, padahal motor yang dulu dimilikinya telah lama dijual.
Sebelum sakit, Romeo bekerja di sebuah perusahaan dengan penghasilan setara upah minimum. Gajinya digunakan untuk membantu kebutuhan keluarga. Namun setelah menjalin hubungan dengan kekasihnya di Samarinda, pengeluarannya semakin besar karena sering bolak-balik ke kota tersebut.
“Iya, buat bolak-balik Samarinda. Makanya keluarga jadi kurang terurus sampai seperti sekarang,” kenangnya
Penyakit itu tak hanya merenggut kesehatannya, tetapi juga menggerus kondisi ekonominya. Stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) membuatnya kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap. Untuk bertahan hidup, Romeo pernah menjadi pengemudi ojek online dan berjualan buah di pinggir jalan.
****
Romeo bukan satu-satunya. Hingga pertengahan tahun ini, Dinas Kesehatan Bontang mencatat 24 kasus baru HIV. Meski demikian, tren penularan menunjukkan penurunan dibanding dua tahun sebelumnya. Pada 2024 tercatat 62 kasus baru dengan enam kematian. Setahun kemudian, jumlah kasus baru turun menjadi 54 dengan dua kematian.
Data di Kalimantan Timur, penularan HIV masih didominasi melalui hubungan seksual. Data Dinas Kesehatan Kalimantan Timur mencatat 647 kasus baru HIV selama Januari–Juni 2026. Samarinda dan Balikpapan masih menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi.
Sebagian besar kasus tersebut dialami laki-laki. Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Taman Husada Bontang, dr. Diyah Sawitri, Sp.PD, risiko penularan HIV melalui hubungan seksual antarsesama laki-laki atau Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) lebih tinggi dibanding beberapa jalur penularan lainnya, seperti penularan dari ibu ke anak maupun penggunaan jarum suntik secara bergantian.
Secara sederhana, Diyah menjelaskan bahwa hubungan seksual melalui dubur tanpa pengaman memiliki risiko lebih tinggi karena lapisan mukosa di bagian tersebut lebih tipis dan mudah mengalami luka mikroskopis yang tidak terlihat. Jika luka itu terpapar cairan tubuh yang mengandung virus HIV, penularan dapat terjadi.
Meski demikian, HIV kini dapat dikendalikan melalui terapi ARV yang diminum secara rutin dan berkelanjutan. Dengan kepatuhan menjalani pengobatan hingga mencapai kondisi viral load tersupresi, ODHIV dapat hidup sehat, memiliki keturunan, dan tidak menularkan HIV kepada pasangan seksualnya.
****
Fenomena penolakan terhadap kelompok yang disebut "Boti" belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah pemuda di Samarinda dan beberapa daerah lain mengampanyekan gerakan anti-Boti.
Dalam berbagai unggahan, kelompok tersebut kerap dikaitkan dengan meningkatnya kasus HIV.
Namun, narasi yang mengaitkan suatu kelompok secara umum sebagai penyebab penularan HIV menuai perhatian karena berpotensi memicu stigma dan tindakan diskriminatif. Jika tidak disikapi secara tepat, kondisi ini dikhawatirkan dapat berkembang menjadi aksi main hakim sendiri.
Seruan penolakan juga mendapat respons dari kalangan legislatif. Ketua Panitia Khusus (Pansus) IV Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Penanggulangan Tuberkulosis (TB) dan HIV/AIDS DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menegaskan agar perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) tidak dinormalisasi. Pernyataan tersebut disampaikan saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai progres penyusunan Raperda Penanggulangan TB dan HIV/AIDS.
Di sisi lain, dokter spesialis penyakit dalam konsultan penyakit tropik dan infeksi, dr. Carta Agrawanto Gunawan, Sp.PD(K), PTI, FINASIM, dari RSUD AWS Samarinda, menilai upaya pencegahan HIV akan lebih efektif jika dilakukan melalui pendekatan yang humanis.
Menurut dr. Carta, edukasi yang masif kepada kelompok yang berisiko, disertai deteksi dini, konseling, serta kemudahan akses terhadap pengobatan antiretroviral (ARV) secara berkelanjutan, merupakan langkah yang terbukti lebih efektif untuk menekan penularan HIV dibandingkan pendekatan yang bersifat diskriminatif. Sebab, HIV tak hanya ditularkan dari hubungan LSL semata.
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: