•   07 July 2026 -

PT. Borneo Grafika Pariwara

Jl. Kapt Pierre Tendean, RT 02 No 9, Kelurahan Bontang Baru
Kecamatan Bontang, Kota Bontang, Kaltim - 75311

Ada 4 Ribu Kasus HIV; Aksi Boikot 'Boti' Digaungkan di Samarinda

Kaltim - Redaksi
06 Juli 2026
 
Ada 4 Ribu Kasus HIV; Aksi Boikot 'Boti' Digaungkan di Samarinda Tangkapan Layar Influencer Samarinda Wawan Irawan bersama peserta aksi Gerakan Anti Boti saat menyampaikan orasi di ruang publik.

KLIKKALTIM- Aksi bertajuk Gerakan Anti Boti menjadi perhatian publik setelah videonya viral di media sosial. Aksi yang dipelopori sejumlah pemuda, termasuk influencer Samarinda Wawan Irawan, itu muncul di tengah pembahasan tingginya kasus HIV di Kota Tepian yang sebelumnya diungkap Panitia Khusus (Pansus) IV DPRD Samarinda.

Dalam pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Penanggulangan Tuberkulosis (TBC) dan HIV/AIDS, Pansus IV DPRD Samarinda mengungkap jumlah kasus HIV di Samarinda telah mencapai sekitar 4.000 kasus. 

Kondisi tersebut mendorong DPRD mempercepat penyusunan regulasi sebagai dasar penguatan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV maupun TBC.

Ketua Pansus IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, juga meminta pemerintah mengambil langkah agar tidak terjadi normalisasi aktivitas LGBT di Samarinda. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menekan laju penyebaran HIV di daerah.

Di tengah pembahasan itu, video aksi Gerakan Anti Boti yang diunggah melalui akun Instagram @wawanirawanxramai diperbincangkan. 

Dalam video tersebut, Wawan bersama sejumlah peserta aksi menyampaikan orasi di ruang publik sambil membawa poster bertuliskan "Boikot Boti" dan "Normalisasi Hina Boti".

Dalam orasinya, Wawan mengajak masyarakat memboikot kelompok yang disebutnya sebagai "boti". 

Ia juga menyampaikan pandangannya yang mengaitkan kelompok tersebut dengan tingginya kasus HIV di Samarinda, sebelum menutup orasi dengan seruan agar Samarinda terbebas dari "boti" dan HIV.

Unggahan itu disertai keterangan yang menjelaskan alasan di balik aksi tersebut. Wawan menyebut gerakan itu bukan dilandasi rasa benci, melainkan didasarkan pada nilai moral, agama, dan kepedulian terhadap generasi muda.

"Kompas boleh saja diputar ke arah mana pun, tapi utara tetap utara. Menurut keyakinan kami, kebenaran bukan ditentukan oleh tren, melainkan oleh nilai dan fitrah," tulis Wawan.

Ia juga menuliskan bahwa menghargai setiap manusia tidak berarti membenarkan setiap perilaku.

"Ini bukan karena benci, tapi justru karena kita sayang dan peduli pada masa depan generasi, moral anak bangsa, dan tentunya yang paling penting nilai-nilai agama," tulisnya.






TINGGALKAN KOMENTAR