Pemkot Mulai Bahas Pembatasan Pertalite; Wali Kota Heran Ada Mobil Habiskan 40 Liter Sehari
Kondisi antrean BBM Subsidi di SPBU Tanjung Laut (Klik Kaltim).
BONTANG – Pemerintah Kota Bontang mulai membahas pembatasan pembelian BBM Pertalite untuk kendaraan roda empat. Kebijakan ini muncul di tengah antrean panjang di sejumlah SPBU yang dinilai mengganggu arus lalu lintas.
Wali Kota Bontang Neni Moernaeni mengaku heran dengan kondisi antrean yang setiap hari mengular di sejumlah SPBU Bontang. Pun, ia menerima kabar adanya roda empat yang setiap hari antre BBM.
Menurut Neni, penggunaan hingga 40 liter Pertalite dalam sehari untuk kendaraan yang hanya beraktivitas di dalam kota dinilai tidak masuk akal.
"Itu juga yang membuat heran. Kalau per mobil dibatasi, misalnya sepekan sekali, mungkin tidak ada antrean. Aneh 40 liter habis per hari," ucap Neni, Selasa (4/8/2026).
Selain pembatasan pembelian sepekan sekali, Neni juga akan menggodok aturan lainnya. Misalnya, kendaraan dengan pelat nomor di luar Kaltim tidak diperkenankan mengantre BBM subsidi.
Menurutnya, kuota BBM subsidi yang diusulkan setiap tahun diperuntukkan bagi masyarakat Bontang dan Kaltim. Kendati demikian, pembatasan tersebut akan dibahas bersama Pertamina.
"Tetapi ada diskresi kalau untuk angkutan sembako dan material," tuturnya.
Penindakan Hukum
Selain pembatasan, Pemkot Bontang juga akan bekerja sama dengan kepolisian untuk mengidentifikasi setiap kendaraan yang mengantre secara berulang. Hal ini untuk memastikan BBM subsidi di Bontang tidak diperjualbelikan kembali dengan harga yang lebih tinggi.
Dari pantauan Klik Kaltim, harga BBM Pertalite di tingkat eceran mencapai Rp13 ribu per liter. Harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan ketika warga membeli langsung di SPBU.
"Saya akan koordinasi ke Polres. Biar ini ada efek jera. Karena kalau dibiarkan, kasihan warga yang dirugikan," tutur Neni.
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: