Neni: Intervensi Gizi Harus Didukung Perubahan Perilaku di Tingkat Keluarga
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni.
BONTANG – Pemerintah Kota Bontang terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan sebagai ujung tombak edukasi dan perubahan perilaku masyarakat.
Komitmen tersebut ditandai dengan pembukaan Orientasi Penguatan Komunikator Metode Komunikasi Antar Pribadi (KAP) bagi Petugas Kesehatan Tahun 2026 yang dibuka langsung oleh Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, di Ballroom Hotel Grand Equator, belum lama ini.
Kegiatan ini diikuti sebanyak 71 tenaga kesehatan yang berasal dari puskesmas, rumah sakit, Dinas Kesehatan, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Bontang.
Dalam sambutannya, Wali Kota Neni Moerniaeni menegaskan bahwa keberhasilan penurunan stunting tidak hanya bergantung pada intervensi kesehatan dan pemenuhan gizi, tetapi juga memerlukan perubahan perilaku masyarakat yang berkelanjutan, khususnya di lingkungan keluarga.
“Intervensi gizi tidak akan berjalan efektif tanpa perubahan kebiasaan sehari-hari di tingkat keluarga,” tegasnya.
Menurut Neni, berbagai program pemerintah seperti pemberian makanan tambahan dan suplemen memiliki keterbatasan waktu pelaksanaan. Oleh karena itu, keberhasilan perbaikan status gizi anak sangat ditentukan oleh pola asuh, kesadaran keluarga, serta penerapan perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga menekankan pentingnya perhatian terhadap periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari kepatuhan remaja putri mengonsumsi tablet tambah darah, kesiapan calon pengantin, hingga pemberian ASI eksklusif, imunisasi lengkap, dan makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi seimbang.
Dalam upaya tersebut, tenaga kesehatan dinilai memiliki peran strategis karena menjadi pihak yang berinteraksi langsung dengan masyarakat, baik dalam kegiatan promotif, preventif, maupun pendampingan keluarga yang berisiko mengalami stunting.
“Metode Komunikasi Antar Pribadi hadir sebagai solusi untuk mengubah perilaku masyarakat secara persuasif, humanis, dan partisipatif,” ujarnya.
Wali Kota juga mengajak seluruh peserta untuk mengikuti orientasi dengan sungguh-sungguh dan mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalam pelaksanaan tugas di lapangan.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang, drg. Toetoek Pribadi Ekowati, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Pilar Kedua Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021, yaitu penguatan kampanye perubahan perilaku dan komunikasi.
“Tujuan kegiatan ini adalah menyiapkan lebih banyak komunikator yang mampu memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat melalui pendekatan komunikasi antar pribadi,” jelasnya.
Orientasi berlangsung selama dua hari dengan menghadirkan pelatih dari Forum KAP Jakarta dan bekerja sama dengan Balai Pelatihan Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur. Selain memperoleh materi dan praktik komunikasi, para peserta juga akan mendapatkan sertifikat Learning Management System (LMS) Kementerian Kesehatan sebagai bagian dari peningkatan kompetensi profesional.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Bontang berharap kapasitas tenaga kesehatan sebagai komunikator dapat semakin kuat, sehingga mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat secara berkelanjutan dan mempercepat pencapaian target penurunan stunting di Kota Bontang.
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: