Kasus Keracunan MBG di Bontang; Sampel Sayur dan Ayam Diuji di Laboratorium, Begini Tahapan Pengujian
Ilustrasi siswa menerima MBG (Klik Kaltim).
BONTANG – Dinas Kesehatan melakukan rangkaian uji sampling atas Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan 31 orang termasuk pelajar mengalami mual dan muntah usai santap makan.
Hasil dari uji laboratorium akan selesai Senin, (10/8/2026) besok.
Kepala Dinkes Bontang Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan, ada 3 tahapan yang harus dilalui.
Diantaranya, mengambil satu paket sampel makanan diambil dari Dapur SPPG Bontang Utara 2 di Kelurahan Api-Api. Sampel tersebut terdiri dari nasi, sayur, ayam, dan serundeng.
Sampel itu diambil dan diperiksa secara komprehensif di Laboratorium Kesehatan Daerah. Kemudian disimpan dalam kondisi tertentu untuk menjaga agar kondisi bahan pangan tetap representatif sebelum dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Selanjutnya, tahapan Pemeriksaan mikrobiologi. Sampel makanan kemudian menjalani pemeriksaan mikrobiologi pada Kamis (6/8/2026).
Pemeriksaan tersebut meliputi sejumlah bakteri yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan, yakni Salmonella, Shigella, Escherichia coli (E. coli), dan Staphylococcus.
Usai diambil, sampel makanan akan masuk pada proses inkubasi. Semua bahan tersebut ditempatkan di dalam inkubator untuk menjalani proses inkubasi biakan mikrobiologi.Tahapan ini diperlukan untuk melihat pertumbuhan mikroorganisme yang menjadi objek pemeriksaan.
Kemudian, tim akan memantau dan menunggu pertumbuhan kembangbiakan sampling. Proses pemeriksaan tidak dapat langsung menghasilkan kesimpulan. Setidaknya membutuhkan waktu sekitar 2 x 24 jam untuk melihat hasil pertumbuhan mikrobiologi.
"Untuk hasil perlu 2x24 jam. Jadi Senin hasilnya bisa ditampilkan," kata Toetoek.
Mitigasi Dinkes Pasca Hasil Laboratorium Keluar
Usai tahapan itu keluar, tim juga akan membandingkan hasil laboratorium dengan kondisi korban. Hasil laboratorium nantinya tidak menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan penyebab kejadian.
Dinkes Bontang masih perlu melihat kesesuaian antara mikroorganisme yang ditemukan dengan pola gejala yang dialami korban, waktu munculnya keluhan, serta jenis makanan yang dikonsumsi.
Masih dalam penjelasan Toetoek, tim kemudian akan menggabungkan bukti epidemiologi dan laboratorium. Tujuannya agar bukti epidemiologi bisa berbanding dengan hasil pemeriksaan spesimen dari penderita.
Tahapan ini dilakukan untuk memastikan apakah agen yang ditemukan pada makanan atau bahan pangan memang memiliki keterkaitan dengan kejadian yang dialami para siswa dan guru.
Setelah seluruh informasi dikumpulkan, Dinkes Bontang baru dapat menyusun kesimpulan investigasi.Kesimpulan nantinya dapat mengarah pada dugaan kejadian keracunan pangan apabila bukti epidemiologi dan hasil laboratorium saling mendukung.
Pasca itu, Dinkes juga akan melakukan koordinasi dengan Puskesmas, BPOM, sekolah dan pengelola dapur sesuai kebutuhan. Kesesuaian prosedur dalam penyajian juga akan diperiksa.
Kemudian, melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap Tempat Pengelolaan Pangan (TPP)/dapur MPG, termasuk higiene sanitasi, air, bahan baku, penyimpanan, pengolahan, suhu, distribusi, kebersihan peralatan dan higiene penjamah.
"Hal itu juga apabila bukti epidemiologi dan laboratorium mendukung. Semoga kejadian ini juga tidak berulang," ungkapnya.
Sementara itu, Dinkes Bontang saat ini masih fokus memantau kondisi para korban. Menurut Toetoek, kondisi para siswa dan guru yang sebelumnya mengalami keluhan mual, muntah hingga diare kini telah membaik.
"Para korban saat ini sudah pulih. Bisa beraktivitas. Tapi tetap kami pantau," ujarnya.
Distribusi MBG Dihentikan Sementara
Sebelumnya, keluhan mual dan muntah muncul setelah sejumlah siswa mengonsumsi menu MBG pada Rabu (5/8/2026).
Wali murid SD Negeri 012 Bontang Selatan kemudian melaporkan adanya sejumlah siswa yang mengalami sakit perut hingga muntah setelah menerima makanan tersebut.
Informasi kejadian itu juga ramai beredar di media sosial.Salah satu wali murid yang menyaksikan langsung kejadian tersebut mengatakan, beberapa siswa terlihat mengeluhkan sakit perut dan muntah saat jam penjemputan sekolah.
Sejumlah siswa kemudian digotong untuk mendapatkan perawatan. "Anak saya tidak pernah makan MBG. Tapi teman sekelasnya pada kena. Grup paguyuban pun ramai," ucapnya.
Pasca munculnya laporan tersebut, distribusi MBG dari SPPG Bontang Utara 2, Kelurahan Api-Api, dihentikan sementara mulai Jumat (7/8/2026).
Penghentian dilakukan setelah muncul laporan keluhan mual, muntah hingga diare yang dialami puluhan siswa dan guru di sejumlah satuan pendidikan penerima MBG.
Sedikitnya 31 siswa dan guru dilaporkan mengalami keluhan tersebut. Akibat penghentian sementara itu, sebanyak 2.477 penerima manfaat untuk sementara tidak mendapatkan distribusi MBG dari SPPG Bontang Utara 2.
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: