Fenomena Gunung Es Kasus HIV/AIDS di Kaltim; Ribuan Penderita Belum Terdeteksi, Anggaran Penanganan Minim
Pansus HIV, AIDS, dan IMV DPRD Provinsi Kaltim menggelar RDP di Kota Bontang pada Senin (14/9/2026) (Klik Kaltim).
BONTANG – Kasus penularan HIV/AIDS di wilayah Kalimatan Timur seperti fenomena gunung es. Jumlah kasus yang belum terdeteksi diprediksi lebih besar ketimbang yang telah ketahuan.
Penyebabnya, program deteksi pengidap HIV, AIDS, dan IMV belum maksimal berjalan di kabupaten dan kota karena keterbatasan anggaran.
Informasi itu disampaikan Ketua Panitia Khusus (Pansus) Revisi Perda Nomor 5 Tahun 2007 tentang Penanggulangan HIV/AIDS Provinsi Kaltim, Darlis Pattalongi, saat menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Kota Bontang, Senin (14/9/2026).
Dalam rapat tersebut terungkap fakta bahwa kabupaten dan kota di Kaltim belum maksimal dalam proses deteksi serta penanganan. Alasannya, anggaran yang tersedia masih minim untuk melakukan pengecekan terhadap kasus suspek.
"Kami sadari kekurangan itu. Makanya dalam revisi Perda ini kami akan sempurnakan. Baik itu regulasi penganggaran maupun penanganannya," ucap Darlis.
Lebih lanjut, untuk mendeteksi apakah virus tersebut masih aktif atau tidak, seluruh pengecekan masih tersentralisasi di Laboratorium Provinsi Kalimantan Timur.
Dengan begitu, kabupaten dan kota harus menunggu hingga sepekan untuk mendapatkan hasilnya. Selain itu, fasilitas pengecekan sampel juga masih sangat terbatas.
"Setelah RDP ini nanti kami sampaikan semua fasilitas akan dimasukkan usulannya. Di Perda juga akan diatur terkait mekanisme penanganan," sambungnya.
Di kesempatan yang sama, Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris mengatakan berdasarkan data, total ada 441 kasus tambahan pada periode 2021-2026.
Dalam perjalanan Dinkes Bontang saat ini melakukan intervensi terhadap 299 orang. Kemudian 142 lainnya tidak diketahui keberadaannya atau telah meninggal dunia.
Untuk tahun ini saja, misalnya, ada tambahan 43 kasus baru yang terdiri dari 24 laki-laki dan 19 perempuan. Dinkes Bontang pun melakukan pendampingan untuk perawatan jalan serta memantau kehidupan mereka agar tidak terjadi penyebaran secara masif.
Di Bontang sendiri bahkan telah dilaksanakan proses screening. Sasarannya ialah ibu hamil. Alat tes pendeteksi diberikan agar bisa memastikan kondisi masyarakat dapat terpantau dan terjangkau.
"Kami juga kesulitan dalam mendeteksi. Tim disebar untuk screening. Memang ke depan harus ada tim khusus penanganan. Tentu dengan kebutuhan anggaran," ucap Agus Haris.
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: