Demi Pembangunan Trotoar dan Drainase; Pohon Puluhan Tahun di Awang Long Terpaksa Ditebang
Pekerja drainase menebang pohon di Jalan Awang Long, Kamis (15/10/2026).
BONTANG – Ambisi pemerintah menciptakan Jalan Awang Long, Kelurahan Bontang Baru, Kecamatan Bontang Utara bebas dari genangan air harus mengorbankan pohon.
Pohon yang diketahui sudah bertahun-tahun meneduh Jalan Awang Long ini harus ditebang karena pembangunan drainase dan trotoar.
Dari pantauan klik kaltim, tepat di depan Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Bontang, terpantau ditebang untuk proyek pembangunan trotoar pada Kamis (15/10/2026).
Kepala Bidang Sanitasi, Air Minum, dan Sumber Daya Air PUPR Kota Bontang, Edy Suprapto, mengatakan berdasarkan desain pembangunan, pohon-pohon di lokasi tersebut memang harus ditebang.
Hal itu dilakukan karena pohon dianggap berpotensi merusak beton dan struktur trotoar. Namun, tidak semua pohon ditebang. Pemerintah justru mempertahankan beberapa pohon dengan alasan menjaga estetika kota.
"Kemarin memang desainnya pohon itu harus ditebang. Tapi karena ada pertimbangan lain, yakni menjaga keteduhan jalan, hanya beberapa saja yang ditebang," ucap Edy.
Dari hasil penelusuran klik kaltim, pohon di sepanjang Jalan Awang Long ini ditanam sejak periode Wali Kota Sofyan Hasdam. Gerakan tanam pohon massal kala itu menanam pohon peneduh di sepanjang jalan di seputaran Kota Bontang.
Diketahui, proyek pembangunan trotoar tersebut dikerjakan oleh CV Malik Ephraim dengan nilai kontrak Rp4,6 miliar. Pekerja proyek juga terlihat kembali membongkar beton yang menyelimuti pohon pada awal pembangunan.
Pembongkaran itu dilakukan sesuai arahan Wali Kota Neni Moernaeni dan menanggapi kritik masyarakat sekitar agar disisakan sedikit ruang tanah di sekitar pepohonan.
"Yang tidak dipangkas pohonnya, kami berikan sedikit ruang untuk tetap tumbuh. Kalau dari desain, harusnya semua dipangkas. Tapi nanti jadi gersang," ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya, warga mengeluhkan proyek pengerjaan trotoar di Jalan Awang Long karena pepohonan ikut dibeton pada Sabtu (3/10/2026).
Kurniawan, warga sekitar, menilai pohon yang dibeton justru dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Sebab, pohon tidak mendapat ruang yang cukup untuk menyerap air karena tanah di sekitarnya turut tertutup beton.
"Aneh saja ini yang bikin proyek. Masa pohon dibeton? Mending dicabut saja atau dikasih ruang di sisi batangnya biar tetap ada tanah," ucap Kurniawan.
Klik Kaltim juga mengonfirmasi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bontang, Heru Triatmojo, untuk mempertanyakan dampak pohon yang ikut dibeton.
Keberadaan pohon di Jalan Awang Long memiliki banyak fungsi, di antaranya sebagai peneduh dan daerah resapan air. Semestinya, pekerja bisa menyisakan sedikit ruang agar pohon tetap mendapatkan air dan pupuk.
"Menjaga keberadaan pohon dengan fungsi peneduh. Seharusnya ada sedikit ruang untuk pemupukan dan air bisa masuk," ucap Heru.
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: