Atasi Diabetes dengan Modifikasi Hidup Sehat, Ini Saran Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Bontang
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Taman Husada Bontang Dr. Dendy Hendriansyah, Sp.PD (Dok/Klikkaltim)
KLIKKALTIM.COM - Modifikasi gaya hidup merupakan kunci untuk pengendalian penyakit diabetes. Diabetes merupakan penyakit yang terjadi, karena peningkatan kadar gula dalam darah.
"Pengendalian diabetes bukan obat namun modifikasi gaya hidup dan pola hidup sehat," kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Taman Husada Bontang Dr. Dendy Hendriansyah, Sp.PD saat dikonfirmasi, Senin (20/5/2024).
Ia mengatakan, modifikasi gaya hidup bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, diet atau pengaturan makanan, dengan mengurangi jenis makanan tinggi kalori dan porsi makanan dikurangi.
"Cara ini dilakukan agar asupan gulanya diturunkan," sambungnya.
Terakhir. Olahraga, kegiatan ini dilakukan untuk mengurangi asupan kalori dan meningkatkan kalori yang dibakar.
Adapun targetnya 2,5 jam per minggu, dengan minimal 30 menit olahraga per hari.
Dianjurkan, jenis olahraga yang dipilih harus kontinu. Kemudian repetitif, dan tanpa jeda.
Semisal jalan kaki dan senam selama 30 menit tanpa berhenti.
Menurutnya, ketika pasien sudah melaksanakan modifikasi gaya hidup, namun gagal. Maka dapat ditambahkan obat diabetes oral maupun suntikan.
“Targetnya bukan menyembuhkan diabet, karena sejauh ini belum ada obat yang menyembuhkan diabetes. Jadi targetnya mengontrol dan mengendalikan penyakitnya, seperti menurunkan gula darahnya, menurunkan berat bedan, menurunkan penyakit kardiovaskulernya,” terangnya.
Faktor-Faktor Penyebab Diabetes
Pemicunya diabetes bisa terjadi dari faktor keturunan dan pola hidup yang kurang sehat.
Ia mencontohkan, pasien A tak mempunyai riwayat diabetes, namun memiliki pola hidup tak sehat seperti, sering mengkonsumsi makanan cepat saji atau junk food dan malas berolahraga.
Hal ini dapat memunculkan resistensi insulin.
Menurutnya, kasus tersebut biasanya terjadi pada pasien obesitas, yang menyebabkan terjadinya gangguan pada penyerapan gula, akibat peningkatan kadar gula dalam darah.
Artinya, gula tak bisa disebarkan ke sel-sel tubuh dan menumpuk dalam darah.
Sehingga ketika pengecekan didapati gula darah tinggi. Seharusnya, gula diserap ke dalam sel-sel tubuh untuk metabolisme.
Adapun bahaya yang timbul yakni glukotoksisitas, atau dapat dikatakan pasien sedang keracunan gula sehingga terjadi kerusakan pada sel pembuluh darah.
Kemudian, akibat jangka panjang dan paling berat, seperti serangan jantung, stroke dan gagal ginjal.
“Terjadi penumpukan gula dalam darah. Seharusnya kalau kita makan, gula diserap oleh usus, lalu masuk ke pembuluh darah. Dari darah dimasukkan dalam sel-sel tubuh oleh hormon insulin. Tapi pada pasien diabetes atau prediabet, terjadi kekurangan hormon insulin akibat dua faktor tersebut,” tandasnya.
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: