PSK di Prancis Terancam Jadi Gelandangan dan Mati Kelaparan Karena Lockdown
Menara Eiffel bermandikan cahaya.
KLIKKALTIM.com -- PSK di Prancis merasakan dampak besar lockdown karena pandemi virus corona (Covid-19). Kini mereka menghadapi pilihan sulit; mati kelaparan atau terinfeksi virus corona.
Mereka yang kehilangan pendapatan, berakhir di jalanan, beberapa orang kena denda karena bepergian dan keluar rumah dilarang. Prancis memperpanjang lockdown sampai 15 April menyusul angka kasus Covid-19 mencapai lebih dari 77.000 dan angka kematian mencapai 10.000.
Bahkan sebelum tindakan karantina dilaksanakan, PSK di Prancis melalui masa-masa sulit karena UU baru. Sejak April 2016, pelanggan bisa didenda mulai dari Rp 25 juta sampai Rp 64 juta, yang menyebabkan turunnya pelanggan prostitusi.
"Sejak itu, kami bekerja di tengah kondisi yang makin tak menentu, yang menyebabkan kami sulit menabung jika suatu waktu kami berhenti dari pekerjaan ini," kata juru bicara Persatuan PSK atau STRASS, Anais de Lenclos, dilansir dari Sputnik News, Jumat (10/4).
Lenclos mengatakan, ketika para PSK melakukan karantina untuk melindungi kesehatan mereka dan pelanggan, mereka malah kehilangan pendapatan. Bagi banyak dari mereka, kehilangan pendapatan artinya tak bisa membeli makanan dan menyewa tempat tinggal.
"Kami tidak percaya diri dengan masa depan, dan sekarang benar-benar sebuah bencana. Saya punya contoh spesifik. Contohnya, beberapa orang tinggal di hotel dan membayar sewa kamar setiap hari; hari ini mereka berakhir di jalan," jelasnya.
Mereka yang tetap bekerja merasa tak aman karena situasi saat ini, karena menurutnya sulit menjaga jarak sosial.
Lenclos mengatakan mereka menghadapi dilema; terinfeksi virus corona atau jadi gelandangan dan mati kelaparan.
Walaupun Menteri Perekonomian Prancis telah mengumumkan akan menggelontorkan paket anggaran Rp 25 juta untuk pekerja mandiri yang kehilangan pendapatan akibat pemberlakuan lockdown di tengah pandemi virus corona, PSK tak termasuk dalam daftar penerima bantuan.
Lenclos mengatakan, PSK di Prancis adalah pekerjaan legal dan membayar pajak, namun mereka tak jaminan keamanan sosial. Sementara di Jerman, PSK termasuk penerima bantuan dari pemerintah, sama seperti pekerja lain.
Lenclos yang bekerja sebagai PSK selama sembilan tahun ini menjalani operasi pada Januari lalu dan telah menyiapkan uang persediaan untuk hidup karena dia tak bekerja sampai akhir Maret. Sekarang dia terancam kehabisan uang.
"Saya enggak tahu kapan saya bisa kembali bekerja. Saya enggak mau kembali bekerja; saya takut," kata dia.
Rumah Penampungan Sementara
Aktivis dan juru bicara Nest Movement, Sandrine Goldschmidt mengatakan Prancis tak mengatur prostitusi.
"Beberapa perempuan ujung-ujungnya mengalami situasi sulit, menderita tekanan dan kekerasan dari mucikari, yang memaksa mereka mencari pelanggan dan membawakan uang; tapi mereka tak mau karena mereka tahu itu bahaya," jelasnya.
Masalah lain, lanjutnya, banyak yang tak bisa bayar sewa tempat tinggal. Ujung-ujungnya mereka terpaksa di jalanan menjadi gelandangan. Akomodasi yang sangat diperlukan saat ini.
"Kami sangat membutuhkan rumah penampungan sementara, terutama penampungan terpisah. Para perempuan ini tak bisa bersama orang lain karena risiko infeksi terlalu besar," kata Goldschmidt.
"Kami mengimbau pemerintah harus segera mengambil langkah mendesak untuk membantu orang-orang ini yang diabaikan di tengah situasi sulit ini," lanjutnya.
Sumber : merdeka.com
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: