Penemuan Obat COVID-19 di Pontianak, Dinkes Kalbar: Masih Perlu Kajian Ilmiah
Ilustrasi corona
KLIKKALTIM.com -- Beredar informasi adanya seorang mantan asisten apoteker di Pontianak, yang mengungkapkan telah menemukan obat untuk menangkal COVID-19 atau corona virus. Hal tersebut dibuktikan dari sembuhnya pasien PDP dan ODP ketika mengonsumsi obat tersebut.
Menanggapi itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Harisson, langsung buka suara.
"Tidak boleh kita mengklaim telah menemukan obat corona, hanya dengan bukti yang katanya sudah bisa mengobati beberapa orang ODP. ODP kan belum tentu kasus konfirmasi COVID-19. PDP saja belum tentu kasus konfirmasi COVID-19," terangnya, kepada awak media, Minggu (5/4).
Ia memaparkan, dalam dunia ilmiah, dalam ilmu kedokteran, bahwa untuk pembuktian suatu zat mempunyai efek terapi tertentu saja, penelitiannya akan sangat panjang, mulai dari penelitian secara invitro maupun invivo.
"Selanjutnya zat tersebut akan diuji coba dulu terhadap hewan, seperti tikus, kelinci, kera, dan lain-lain, yang kita tulari dengan virus atau bakteri tertentu, sampai percobaan ke tahap akhir, yaitu pada manusia yang menjadi relawan, baik yang tidak terinfeksi maupun yang terinfeksi virus, atau bakteri tertentu yang sedang kita teliti," paparnya.
Ia melanjutkan, dalam suatu penelitian akan ada metode perbandingan, atau komparasi, misalnya antara efek atau pengaruh pada orang yang terinfeksi yang diberikan obat, zat dan efek pada orang yang terinfeksi tetapi tidak diberikan zat yang sedang diteliti.
"Perbandingan ini akan membuktikan bahwa apakah benar obat itu dapat memberikan efek terapi, atau malah orang yang tidak diberi obat yang sedang diteliti pun ternyata bisa sembuh. Karena COVID-19 adalah self limiting disease, yang artinya pasien dapat sembuh dengan sendirinya asal daya tahan tubuhnya kuat," tegasnya.
Penelitian ini, kata Harisson, membutuhkan waktu yang sangat panjang, termasuk harus diteliti dalam dosis berapa obat tersebut tidak mempunyai efek, dalam dosis berapa obat tersebut mempunyai efek terapi, dan dalam dosis berapa obat tersebut justru meracuni.
"Saya mendukung peneliti-peneliti, ilmuwan-ilmuwan di Kalbar untuk melakukan penelitian terhadap penyakit ini, namun gunakan metode penelitian secara ilmiah, agar hasil memang benar-benar sudah teruji dan sahih. Jangan buru-buru melempar ke masyarakat terhadap hasil yang belum terbukti secara ilmiah, karena hanya akan menimbulkan kegalauan," pungkasnya.
Sumber : kumparan.com
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: