IDI Sebut 80 Tenaga Medis Terpapar Covid-19 dan 24 Meninggal
Persiapan Dokter Pakai ADP Tingkat 3.
KLIKKALTIM.com -- Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih mengatakan hingga saat ini tenaga medis yang meninggal akibat Covid-19 terdapat 24 orang. Tidak hanya itu, yang terpapar akibat virus tersebut yaitu 80 petugas kesehatan.
"Terakhir yang meninggal yang 24 orang. Terpapar infeksi di Jakarta saja 80 petugas kesehatan, yang diumumkan oleh Gubernur DKI Jakarta," kata Daeng dalam diskusi dalam siaran telekonference di Jakarta, Sabtu (18/4).
Daeng juga menjelaskan tidak hanya tenaga medis konsulen saja, para dokter yang sedang mengikuti program spesialis pun terpapar. Hampir 50 persen kata dia yang terpapar Covid-19.
"Jadi kolegium menyatakan 50 persen kawan-kawan dari konsulen dan PPDS itu sebenarnya sudah terpapar juga. Berita terkahir dari (RS) Karyadi ada 46 orang dokter, berasal dari dokter PDDS," jelas Daeng.
Walaupun kata Daeng pihaknya tidak mendapatkan data tenaga medis yang meninggal ataupun terpapar, IDI saat ini sudah membentuk tim audit. Hal tersebut bertujuan untuk menelusuri dan mendapatkan data yang akurat.
Kekurangan APD
Daeng juga menjelaskan, para tenaga medis terpapar akibat Covid-19 lantaran keterbatasan alat pelindung diri (APD). Bukan hanya itu, para tenaga medis juga sering menggunakan APD tetapi tidak sesuai dengan standar. Dia mencontohkan seperti dokter THT di Makassar yang menggunakan APD tetapi tidak sesuai standar.
"APD banyak sekali kekurangan sehingga banyak modifikasi, dari modifikasi tersebut tidak bisa mencegah tertular. Kawan-kawan Makassar tidak menggunakan APD tidak standar," ungkap Daeng.
Kemudian kata dia banyak sekali tim medis yang tidak bekerja di rumah sakit rujukan atau praktik pribadi yang tertular. Sebab pasien tersebut tidak memiliki gejala virus corona.
"Dokter tidak mengetahui sehingga kewaspadaan kurang, karena dia datang ke dokter tanpa memiliki gejala covid-19 keluhannya lain, si dokter tidak mengerti, dari 24 dokter meninggal tadi banyak ketidak pahaman bahwa pasien yang dihadapi sebenarnya pasien covid," kata Daeng.
Sebab itu, saat ini pihaknya sudah memberi tahu kepada para dokter agar meminimalisir membuka praktik tatap muka. Kecuali kata dia dalam kondisi mendesak.
"Semua dokter membatasi pratiknya, kalau bisa pratik tatap muka tidak dilakukan kecuali emergency, maka semua pasien dihadapi memakai APD," jelas Daeng.
Sumber : merdeka.com
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: