Horor! Pemudik Ngeyel di Sragen Bakal Dikarantina di Rumah Angker
Foto: Suasana rumah karantina khusus di Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Sragen, Senin (20/4)
KLIKKALTIM.com -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen meminta desa untuk menyiapkan tempat karantina khusus bagi para pemudik yang membandel di tengah pandemi virus Corona atau COVID-19.
Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati meminta pihak desa menyiapkan rumah kosong dan berhantu, untuk mengkarantina paksa para pemudik yang tidak menaati aturan karantina mandiri selama 14 hari.
"Kita semua sudah bekerja keras untuk menanggulangi pandemi ini. Termasuk setiap para pemudik, kita terima dengan baik, lalu diminta menandatangani komitmen untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari," kata Yuni saat ditemui wartawan, Senin (20/4/2020).
"Jika masih ada yang nekat, saya persilakan desa untuk melakukan langkah tegas. Kalau ada rumah kosong dan berhantu, masukkan di situ," tegasnya.
Yuni menyebut keputusan ini diambil setelah menerima banyak laporan dari desa tentang pemudik yang tidak mentaati aturan karantina mandiri. Meski dikarantina di lokasi khusus, Yuni meminta pihak desa memastikan kondisi para pemudik tetap baik.
"Kalau memang ngeyel silakan. Sudah ada dua desa yang lapor ke saya. Satu di Kecamatan Plupuh dan satu lagi di Desa Sepat Kecamatan Masaran. Tapi saya minta makanan mereka diperhatikan. Kesehatan juga terus dipantau," ujar Yuni.
Pantauan detikcom, di Desa Sepat, Kecamatan Masaran, saat ini sudah beberapa orang yang dikarantina paksa. Menurut pihak desa, rumah karantina tersebut memang sudah lama tak dihuni sehingga memiliki kesan angker bagi warga sekitar.
Mendes: 42% Desa Sudah Lakukan Pemantauan Terhadap Pemudik:
"Karena kemarin konsultasi sama bupati, kita dibolehkan melakukan karantina para pemudik yang bandel. Akhirnya dipilih lokasi itu. Gedungnya lama nggak dipakai sehingga kesannya rumah hantu gitu. Kita bersihkan kita kasih tempat tidur bersekat," terang Kepala Desa Sepat, Mulyono.
Dari ketiga pemudik yang menghuni rumah hantu tersebut, lanjut Mulyono, dijemput oleh Satgas COVID-19 desa karena ketahuan keluar rumah. Meski awalnya enggan, para pemudik tersebut akhirnya menurut setelah diberi pengertian oleh petugas.
"Ya kita memang agak memaksa. Bagaimana lagi, karena ini demi kebaikan seluruh warga. Kami harapkan hal ini menjadi pelajaran bagi warga lain untuk menuruti aturan," imbuhnya.
Curhat Kapoknya Pemudik Bandel yang Dikarantina di Rumah Hantu Sragen
"Anak saya minta mainan, semacam tenda-tendaan gitu. Lalu saya antar beli ke Sragen (kota). Pulangnya saya ketangkap sama Satgas (COVID-19 Desa Sepat). Saya ditarik gitu aja," ujar pria yang selama ini merantau di Lampung ini kepada detikcom di lokasi karantinanya, Kecamatan Masaran, Senin (20/4/2020).
Warga Desa Sepat, Kecamatan Masaran ini mengungkap dia akhirnya ditempatkan di lokasi karantina khusus. Dia juga mengaku menyesal tak disiplin menjalani karantina mandiri selama 14 hari seperti yang diminta pemerintah.
"Saya ikut aturan, lah. Saya menyesal. Terpaksa nggak bisa ketemu sama keluarga, tapi saya tahu ini demi keamanan," lanjutnya.
Untuk mengurangi rasa kangen dengan keluarga, Heri hanya bisa melakukan panggilan video call. Belum lagi, gedung yang ditempatinya banyak disebut warga sekitar sebagai rumah hantu.
"Pasrah saja sama Allah. Untuk pelajaran, lah. Aturannya sudah bagus, saya yang melanggar," kata Heri.
Sumber : detik.com
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: