•   03 May 2026 -

PT. Borneo Grafika Pariwara

Jl. Kapt Pierre Tendean, RT 02 No 9, Kelurahan Bontang Baru
Kecamatan Bontang, Kota Bontang, Kaltim - 75311

Hendak ke Candi Borobudur Naik Pikap, 71 Siswa SMK Asal Bogor Ditangkap di Banyumas

Nasional -
13 September 2019
 
Hendak ke Candi Borobudur Naik Pikap, 71 Siswa SMK Asal Bogor Ditangkap di Banyumas 71 Siswa Bogor Ditangkap Polisi di Banyumas. ©2019 Merdeka.com/Rasyid Ali

KLIKKALTIM -- Polisi menangkap 71 pelajar di Kecamatan Kemrajen, Banyumas, Jawa Tengah. Puluhan siswa itu berasal dari enam sekolah di Bogor, Jawa Barat.

33 merupakan siswa SMK YAPIS. 8 siswa dari SMK Mekanika. 3 dari SMK Yatek. 3 dari SMK YKTB. 14 siswa dari SMK Wijaya Kusuma dan 10 siswa dari SMK Tridaya.

Puluhan pelajar itu ditangkap saat hendak berwisata ke Candi Borobudur, Jawa Tengah. Mereka ingin berlibur dengan cara memberhentikan pikap untuk mencapai tujuan.

Aksi yang disebut siswa dengan 'ngompreng' itu terhenti setelah mereka disetop polisi di kawasan Kecamatan Kemrajen, Banyumas. Puluhan siswa itu pun dipulangkan dan tiba di Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bogor, Jumat (13/9).

"Mereka berangkat Selasa, 10 September ingin wisata ke Candi Borobudur, dengan cara menyetop mobil dari Bogor. Tapi, hari Kamis pagi, saat mereka nyetop truk besar di Kemrajen itu, mereka diamankan kepolisian setempat," kata Kasat Binmas Polres Bogor, AKP Doddy Rosjadi.

Doddy menjelaskan, setelah ditangkap para siswa dibawa ke Polres Banyumas untuk dilakukan pembinaan. Pembinaan dilakukan sebelum pelajar itu dipulangkan pada Jumat dini hari pukul 01.00 WIB, menggunakan dua unit bus dari Polres Banyumas ke Dinsos Kabupaten Bogor.

"Masing-masing siswa membawa uang Rp 150 ribu per orang dengan inisiatif mereka sendiri. Kegiatan ini juga sudah ada sejak 2008. Tapi ini tanpa sepengetahuan orang tua dan sekolah," kata Doddy.

Sementara Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Kabupaten Bogor, Dian Mulyadiansyah menjelaskan, aksi dilakukan pelajar ini tidak dibenarkan.

"Meski sekolah mereka di Kota Bogor, tapi domisili mereka ada di kabupaten. Ini tidak dibenarkan. Kalau bekal mereka habis, dikhawatirkan akan melakukan penjarahan meski tidak ada yang bawa senjata tajam," kata Dian.

Saat menanyakan satu per satu siswa, Dian menjelaskan mereka memiliki alasan berbeda kepada orang tuanya. "Ada yang bilang study tour, ada yang bilang latihan dasar kepemimpinan. Intinya mah bohong. Tadi beberapa dijemput orang tuanya dan banyak yang dijemput pihak sekolah," kata Dian.

Salah satu siswa, Indra mengaku kecewa mereka harus dipulangkam paksa. "Orang enggak ngapa-ngapain. Cuma mau ke Borobudur. Tidurnya di emperan aja," kata dia, yang di dalam tasnya hanya berisikan seragam sekolah dan kain sarung.

Sumber : merdeka.com




BERITA TERKAIT


TINGGALKAN KOMENTAR