•   19 July 2026 -

PT. Borneo Grafika Pariwara

Jl. Kapt Pierre Tendean, RT 02 No 9, Kelurahan Bontang Baru
Kecamatan Bontang, Kota Bontang, Kaltim - 75311

10 Tahun Bertaruh Nyawa, Anak-anak Santan Ulu Naik Kereta Gantung Demi Bersekolah

Kutai Kartanegara - M Rifki
18 Juli 2026
 
10 Tahun Bertaruh Nyawa, Anak-anak Santan Ulu Naik Kereta Gantung Demi Bersekolah Siswa menarik tali kereta gantung untuk menyeberangi sungai di Dusun Damai, Desa Santan Ulu. (Istimewa)

KUKAR – Setiap pagi, puluhan anak di Dusun Damai, Desa Santan Ulu, Kecamatan Marangkayu, memulai perjalanan menuju sekolah dengan mempertaruhkan keselamatan. Mereka harus menyeberangi sungai menggunakan kereta gantung sederhana. Rutinitas berbahaya itu telah berlangsung selama sekitar 10 tahun.

Setiap pagi, mereka berjalan kaki dari rumah menuju tepian sungai, lalu menyeberang menggunakan kereta gantung sederhana yang dibangun secara swadaya oleh warga. Setelah tiba di seberang, perjalanan belum berakhir. Mereka masih harus berjalan kaki sekitar satu kilometer melewati kawasan permukiman sebelum sampai di sekolah.

Kereta gantung tersebut membentang sekitar 40 meter di atas sungai dan telah menjadi satu-satunya akses tercepat bagi warga selama satu dekade. Untuk menggerakkannya, para pengguna harus menarik sendiri tali baja hingga kereta mencapai sisi seberang.

Kepala Desa Santan Ulu, Heri Budianto, membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, hingga kini belum ada pembangunan jembatan permanen dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sehingga warga terpaksa terus mengandalkan fasilitas sederhana itu.

"Benar, lokasinya di Kilometer 24. Kereta gantung itu dibangun secara swadaya masyarakat dan usianya sudah sekitar 10 tahun," kata Heri kepada Klik Kaltim.

Ia mengungkapkan, usulan pembangunan jembatan hampir setiap tahun telah diajukan kepada pemerintah daerah. Namun, hingga kini belum juga terealisasi.

Padahal, tanpa kereta gantung, para pelajar harus memutar melalui jalur yang jauh sehingga waktu tempuh menuju sekolah menjadi lebih lama.

Di seberang sungai itu terdapat tiga fasilitas pendidikan, yakni Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Karena itu, setiap hari para siswa masih bergantian melintasi sungai menggunakan kereta gantung yang jauh dari standar keselamatan.

Menurut informasi yang diterima pemerintah desa, pembangunan jembatan permanen terkendala karena lokasi tersebut berada di kawasan hutan lindung.

Meski demikian, pemerintah desa mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain terus mengimbau warga agar berhati-hati saat melintas. Kekhawatiran akan putusnya tali penyangga maupun kerusakan fasilitas selalu menghantui mengingat usia kereta gantung yang sudah cukup tua.

"Kami selalu mengingatkan orang tua untuk mengawasi anak-anak saat menyeberang. Bagaimanapun, akses ini tidak bisa dijamin aman. Kami juga ingin menyediakan kendaraan atau solusi lain, tetapi kemampuan anggaran desa sangat terbatas," tuturnya.

Heri berharap pemerintah segera memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut. Menurutnya, pembangunan jembatan permanen bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjamin keselamatan warga sekaligus memastikan anak-anak dapat mengakses pendidikan dengan aman. (*)






TINGGALKAN KOMENTAR