Habib Pencipta Pasar

Korporasi - Ikram
12 Maret 2020
Habib Pencipta Pasar Foto: Internet

Oleh: Ikram 

 

KLIKKALTIM.COM - Lautan manusia terlihat di halaman parkir nan luas gedung olahraga dan pertemuan di Balikpapan. Ba’da Isya, sebuah alunan merdu shalawat terdengar dari pelantang suara yang terpasang di beberapa sudut panggung megah. Di bawah panggung, ribuan orang, kebanyakan dengan balutan gamis putih dan sarung duduk bersila dengan rapi. 

Dari samping panggung besar, seorang berbadan besar berwajah blasteran Arab meniti tangga yang menghubungkan ke arena. Jubah putihnya yang panjang menjela hingga ke lantai. Di atas arena, beberapa orang berbaris menyambut. Mencium tangan dengan khusyuk. 

Habib Syech Abdul Qodir Assegaf adalah pemimpin Shalawat Akbar malam itu. Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, ini adalah pendiri Majelis Ahbabul Mustofa. Namanya mashyur sebagai penembang shalawat. Setiap tabligh yang dipimpinnya hampir pasti dijejali ribuan jamaah. Habib berwajah sendu ini punya komunitas penggemar tersendiri. Berasal dari kalangan milenial yang tergabung dalam Syekhermania. 

Jauh sebelum grup band indie Efek Rumah Kaca mencipta lagu protes berjudul Pasar Bisa Diciptakan, Habib Syech sudah berkeliling melakukan tabligh akbar dengan pasar yang juga dia ciptakan sendiri. Media dakwahnya adalah tembang shalawat yang dirangkai dengan kalimat indah. Di situs streaming Youtube, ada ratusan video shalawat yang dilantunkannya. Jumlah penontonnya jutaan. Habib Syech juga cukup produktif. Terhitung ada 10 lebih album shalawat yang pernah dibuatnya. Banyak yang berbahasa Arab. Tapi, dia juga mencipta secara khusus tembang shalawat berbahasa Indonesia dan Jawa. 

Secara silsilah, Habib Syech merupakan putra dari Habib Abdul Qodir bin Abdurrahman Assegaf. Kakeknya adalah ulama terkemuka, Habib Abdurrahman Assegaf. Lebih jauh ke bawahnya, dia merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW yang hijrah dari Hadramaut (Yaman). Di Indonesia, ada sekitar 146 nama keluarga yang bernasab hingga ke Rasulullah. Termasuk, salah satunya adalah Habib Riziek Shihab, penceramah yang mendirikan Front Pembela Islam (FPI). Para pendatang dari Yaman itu tersebar di seluruh Nusantara, mulai Tanah Jawa hingga Kalimantan. 

Sejarah penembangan shalawat di Indonesia dan Nahdlatul Ulama (NU) tak bisa dipisahkan. Organisasi Islam terbesar di Indonesia itu bahkan menggunakan Shalawat Badar, yang diciptakan oleh sesepuh NU pada 1960, Kyai Ali Mansyur sebagai lagu wajib mereka. Keputusan menggunakan Shalawat Badar sebagai mars NU itu ditetapkan melalui Muktamar ke-28 di Krapyak, Yogyakarta. 

Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Jumlah penduduk muslim di Indonesia saat ini mencapai 209 juta jiwa lebih. Dengan pasar sebesar itu, jangan heran bila penonton Shalawat Akbar yang dipimpin Habib Syech melebihi jumlah orang yang datang ke hiburan rakyat saat kampanye pemilihan kepala daerah. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR