•   24 September 2021 -

Asal Muasal Kampung Jawa, Didirikan Trio Pekerja Romusha & Akrab Mitos Hantu Kuyang

Humaniora - M Rifki
12 September 2021
Asal Muasal Kampung Jawa, Didirikan Trio Pekerja Romusha & Akrab Mitos Hantu Kuyang Kondisi terkini Kampung Jawa dulu dikenal dengan sebutan Dusun Suka Maju/ M Rifki Klik Bontang.

KLIKBONTANG - Sumaji, berpamitan meninggalkan kampung halamannya, di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, untuk merantau ke Bontang, 49 tahun silam.

Kala itu, Sumaji diajak saudaranya untuk bekerja di perusahaan survei yang mengurusi kepentingan industri saat Badak LNG tengah dirintis. 

Di bawah naungan CV Agus Bredes, perusahaan asal Balikpapan, Sumaji menetap di Bontang dengan upah Rp 1.000 per hari. 

Hampir genap setahun bekerja, pria kelahiran Ponorogo, 1951 ini membeli tanah di Dusun Suka Maju, kini disebut Kampung Jawa, dari warga setempat. 

Tanah seluas 15x25 meter per segi ia beli sekitar 150 ribuan. "Itu hari saya beli masih dekat rawa-rawa," ujar Sumaji yang kini berusia 70 tahun. 

Sumaji muda, kala itu pelan-pelan mendirikan rumah di sini. Di Dusun Suka Maju, hampir seluruh warganya perantauan dari Pulau Jawa. Mereka, disebut sudah menetap sejak 1943, saat penjajahan Jepang. 

Orang-orang dari Jawa ini, kata Sumaji, adalah para pekerja yang sempat kabur dari kerja paksa atau romusha di Balikpapan.

Ada tiga orang yang melarikan diri, mereka antara lain, Mbah Bakir, Mbah Mis dan Mbah Barman. Mereka diangkut oleh tentara Jepang, dari Desa Ndayu, Kota Blitar, Jawa Timur. 

Ketiga orang itulah yang disebut-sebut sebagai perintis Dusun Suka Maju. "Kata orang, dulu ketiganya itu kabur saat di Balikpapan. Lalu datang kemari buka kampung di sini," ungkapnya. 

Kembali Sumaji bercerita, di era awal dirinya menetap, hanya ada segelintir warga. Rumah yang berdiri juga masih bisa dihitung jari. Kebanyakan warga membuka ladang, mereka menanam padi gunung dan singkong. 

"Baru 7 rumah itu hari saya ke sini. Yang daerah bawah (RT 19) itu masih rawa-rawa," kenangnya. 

Seiring waktu, dusun ini mulai ramai didatangi warga dari Jawa sana. Warga setempat mengajak sanak familinya untuk bekerja sebagai buruh di proyek pembangunan Badak LNG. 

Dengan pertambahan penduduk, warga kemudian sepakat membangun langgar untuk salat berjamaah. Tanah wakaf dari Mbah Barman didirikan Langgar Miftahul Huda, yang kini sudah menjadi masjid. 

"Orang-orang perusahaan dulu yang menyebut Kampung Jawa. Itu sih yang saya ketahui," ucapnya. 

Kultur Kejawen

Di awal-awal, warga yang didominasi pendatang dari Pulau Jawa tetap erat memelihara budaya dari kampung halamannya. 

Untuk memenuhi pangan, mereka bercocok tanam padi gunung. Selain itu, tanaman singkong juga tumbuh subur di wilayah ini. 

Di hari-hari tertentu, warga rajin gotong royong membersihkan kampung. Pun saat ada warga yang berduka, seluruh penduduk iuran untuk meringankan beban dan gelar hajatan berkala. 

Di bawah kepemimpinan administrasi Kutai, Kini Kutai Kartanegara, warga mulai mengenal strata pemerintahan di medio 1980an. Dusun Suka Maju, kala itu dibagi dalam tiga rukun tetangga, yang dipimpin orang pejabat Kutai. 

 "Dulu Ketua Dusun-nya dan RT-nya orang Kutai mas," katanya. 

Akrab dengan Mitos Kuyang

Sumaji tiba-tiba bercerita serius. Ia membahas mitos Kuyang, makhluk jelmaan dengan kepala dan organ tubuh tanpa badan. 

Medio 1990an, mitos ini santer terdengar di lingkungannya. Sumaji juga mengaku, istrinya sempat menjadi korban dari makhluk mistis ini. 

Istrinya, kata Sumaji, pernah keguguran di usia kandungan 2 bulan. Makhluk dengan wujud mengerikan itu juga pernah disaksikan istrinya. 

"Saat itu subuh, istri saya mengaku melihat keberadaan hantu kuyang itu, dan melapor ke saya," ucapnya. 

Namun, kehadiran kuyang itu tak lagi ada di Kampung Jawa. Menurutnya, jelmaan makhluk menyeramkan itu sudah lama menghilang. 

*Tulisan ini didasarkan dari narasi tunggal narasumber. Dukungan literasi tulisan ini juga minim, klikbontang kesulitan mencari sumber literasi dan dokumen lainnya. 




TINGGALKAN KOMENTAR