•   09 December 2022 -

Menanam Kaktus di Pekarangan Rumah, Zahra Bisa Kantongi Rp 2 juta Sebulan

Feature - Asriani
26 Juli 2021
Menanam Kaktus di Pekarangan Rumah, Zahra Bisa Kantongi Rp 2 juta Sebulan Zahra memanfaatkan garasi di rumahnya Jalan Brokoli 11, nomor 48 B, Kelurahan Gunung Elai, Kecamatan Bontang Utara/Asriani - Klik Bontang.

KLIKKALTIM - Garasi di rumah Jalan Brokoli 11, nomor 48 B, Kelurahan Gunung Elai, Kecamatan Bontang Utara tampak mentereng ketimbang deretan rumah di kiri-kanannya. 

Tanaman hias berukuran mini di dalam pot bunga berkelir merah jambu terlihat mencolok dengan rumah abu-abu milik Zahra. 

Zahra, ibu rumah tangga, mengisi kesehariannya sejak pandemi dengan bercocok tanaman hias. Hobi menanamnya ini rupanya berbuah manis, selama pagebluk kesenangannya dengan tanaman hias menghasilkan rupiah. 

"Awalnya iseng aja, mumpung saat itu COVID-19 baru muncul. Yah nanam kaktus, lama kelamaan banyak yang pesen," ujarnya. 

Di pekarangan rumahnya, Zahra mengembangkan jenis kaktus mini dan sekulen. Tanaman asli gurun pasir ini dibudidayakan dengan metode tanam yang sederhana. 

Dengan sedikit perawatan, tanaman hias berduri bisa tumbuh dengan bentuk yang unik. Ukurannya yang kecil, bisa ditempatkan di mana saja. 

Kaktus, katanya, menjadi tanaman hias yang banyak digandrungi saat ini. Selain bentuknya yang unik dan lucu, perawatan tanaman ini sangat mudah. 

"Cukup disiram air satu minggu sekali, baik kaktus mini ataupun kaktus jenis sekulen. Karena, apabila disiram tiap hari kaktus akan mati," katanya. 

Kaktus mini dan sekulen dibedakan dari bentuk durinya, untuk jenis yang mini durinya lebih tajam ketimbang bentuk sekulen. 

Selain itu, jenis sekulen lebih sensitif dibanding dengan kaktus yang berduri. Pasalnya mudah busuk apabila daun terkena percikan air.

Dan perlu dijemur di atas matahari agar kaktus lebih mudah tumbuh dan berbunga.

Zahra menyampaikan, media tanam kaktus tidak sama seperti menanam jenis tanaman bunga pada umumnya. Kaktus ini ditanam menggunakan pasir malang, batu apung, dan sekam bakar.

"Keduanya sama, cuma kalau kita pakai pasir yang tanaman biasa tidak akan bisa hidup, tanaman akan busuk," terangnya.

Kaktus yang ia datangkan berasal dari Kota Bandung. Sebab, iklim di daerah Bandung dinilai lebih bagus untuk petani kaktus.

Untuk harga jualnya, kata Zahra, bervariasi mulai dari harga Rp 25 ribu hingga Rp 150 ribu. Tergantung jenis usia dan asal kaktusnya.

"Kalau import emang sedikit mahal, terus semakin gede semakin mahal harganya," jelasnya.

Omzet yang ia dapatkan lumayan walau kadang pendapatannya tak menentu, mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 2 juta perbulan. 

Namun menurut dia, pendapatan itu lumayan dan tidak membutuhkan tenaga ekstra untuk merawatnya. Juga hampir tiap hari pembeli datang.

"Alhamdulillah setiap hari selalu ada yang beli," katanya.




TINGGALKAN KOMENTAR