Pemkot Bontang Libatkan Perusahaan dan Tokoh Agama dalam Penanganan Stunting
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris.
BONTANG – Pemerintah Kota Bontang terus memperkuat upaya percepatan penanganan stunting melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk melibatkan perusahaan melalui forum Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) serta tokoh agama di masyarakat.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, mengatakan penanganan stunting membutuhkan dukungan bersama karena tidak dapat sepenuhnya ditangani hanya dengan kemampuan fiskal pemerintah daerah.
Menurutnya, setelah pelaksanaan timbang serentak dan pemutakhiran data selesai dilakukan pada Juni mendatang, pemerintah akan memetakan secara rinci kelompok masyarakat yang telah menerima intervensi maupun yang masih membutuhkan dukungan tambahan.
“Seluruh data dari puskesmas dan kelurahan nantinya dipusatkan di Bappeda untuk dipetakan, sehingga bantuan dan intervensi dapat diberikan secara lebih tepat sasaran,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penanganan stunting tidak hanya berfokus pada balita, tetapi juga menyasar kelompok rentan lainnya, seperti ibu hamil, ibu nifas, calon pengantin, hingga anak bawah dua tahun (baduta).
Selain persoalan asupan gizi, Pemkot Bontang juga menyoroti faktor lingkungan yang dinilai berpengaruh terhadap risiko stunting, seperti kondisi sanitasi, akses air bersih, dan ketersediaan fasilitas WC yang layak.
“Permasalahan sanitasi dan lingkungan juga menjadi perhatian karena turut memengaruhi kondisi kesehatan anak dan keluarga,” jelas Agus Haris.
Dalam pelaksanaannya, sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dilibatkan dalam tim percepatan penanganan stunting, di antaranya Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, DP3AKB, Dinas PUPR, hingga Perumahan dan Permukiman.
Pemkot menegaskan seluruh kebijakan dan program intervensi akan berbasis data agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.
“Data menjadi dasar penting agar penanganan berjalan efektif, termasuk untuk menentukan bentuk dukungan pemerintah maupun keterlibatan perusahaan melalui forum TJSL,” katanya.
Selain itu, Pemkot Bontang juga berencana memperkuat edukasi kepada masyarakat dengan melibatkan tokoh agama dan tenaga psikologi guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan anak.
Langkah tersebut dinilai penting karena masih ditemukan masyarakat yang belum optimal memanfaatkan layanan kesehatan, termasuk imunisasi dan pemeriksaan tumbuh kembang anak.
“Kami ingin membangun kesadaran bersama bahwa kesehatan anak adalah tanggung jawab semua pihak, sehingga pendekatan yang dilakukan tidak hanya melalui pemerintah, tetapi juga melibatkan unsur masyarakat,” pungkasnya.
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: