Menghidupkan Sholawat Melalui Musik
Solikhatun saat tampil menyanyikan lagu sholawat Saâ??duna Fiddunya,
KLIKBONTANG.com -- Memperingati 74 tahun muslimat Nahdlatul Ulama (NU) dilakukan dengan mengadakan lomba musik klasik peninggalan nusantara kasidah. Acara ini digelar di gedung PCNU Jl. Pattimura, Kelurahan Api-Api, Kecamatan Bontang Utara, Sabtu dan MInggu (7-8/3/2020).
Salah satu peserta grup kasidah bernama Solikhatun, bersama grup kasidah lainnya melakukan salawatan akbar. Suara bergemuruh ketika lantunan lagu dan musik semakin meningkatkan ritmenya.
Gema suara jamaah bersholawat dan rebana bersahut-sahut terdengar.
Para peserta dari berbagai wilayah di Kota Bontang terlihat memegang rebana, memukul dan memainkan alat musik tersebut sambil melantunkan shalawat. Melalui permainannya, mereka mencoba menerangkan secara filosofis hubungan antara seni dan religi.
Lirik Sa’duna Fiddunya sebagai lagu wajib dibawakan penuh khidmat. Makna dari lagu tersebut adalah sebagai istigasah atau memohon pertolongan pada sang Khalik.
Solikhatun salah satu peserta yang menyanyikan lagu Sa’duna Fiddunya menuturkan, lagu tersebut tentang keluarga Rasul al Mustafa Muhammad, sebagai panutan umat, dari sejak manusia lahir hingga wafat. Dengan menyanyikan lagu itu diharapkan Rasul dan keluarganya selalu mendapatkan syafaat.
Lagu Sa’duna Fiddunya dengan alat kasidah merupakan tradisi yang dijaga oleh NU sebagai warisan sejarah perdaban nusantara. Bukan hanya itu, lagu dan alat musik tersebut sebagai wadah bersholawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagai persambungan tali antara sang maha pencipta.
Ada kekuatan religi dan bentuk spritualitas saat menyanyikan lagu dan kasidah. Manusia akan dibawa pada suasana kefakiran atas dirinya, ketidakmampuan atas kehendaknya. Ini bentuk kebutuhan dan ketergantungan sebagai mahluk yang fakir atas kekuasaan sang maha pencipta.
Bentuk itu, kata Solikhatun, merupakan nikmat dan kesyukuran manusia atas karunia Allah dan Rasul Muhammad yang selama ini umat mengagungkannya sebagai panutan dan pembimbing.
“Saya ingin menjadi umat Nabi Muhammad, dan mendapatkan syafaatnya diakhirat, oleh karena itu, lagi tersebut sebagai perantaraan sholawat sebagai kefakiran saya,” ungkap Solikhatun sambil menahan tangisnya.
Dari menahan tangisnya ia melanjutkan pembicaraan, bagi dirinya nilai lagu tersebut sangat spiritual ketika memainkannya dengan alat musik. Karena tujuannya menyiarkan agama dan menghidupkan sholawat kepada Rasul dan keluarganya maka lagu sholawat tersebut tetap berkumandang.
Dengan zaman yang kian maju, serta munculnya sains dan teknologi, serta lagu-lagu modern, tidak mematahkan muslimat NU, sebagai garda terdepan untuk menjaga tradisi.
Tak perlu minder dengan kemunculan musik modern, ungkap Solikhatun. Sebab muisik tradisional kasidah tak kalah bagusnya. Bahkan musik tradisional murni dari tampilan manual saat memainkannya. Dengan menambah alat musik untuk nuansa yang lebih indah sekaligus sebagai warisan budaya.
Untuk menjaga tradisi, muslimah NU, tetap terus memperjuangkan sembari terus berlatih. Meskipun Solikhatun menyadari pasang surutnya dalm mempertahankan, namun semangatnya tidak pernah pudar.
Oleh karena itu, ia berpesan pada generasi muda bahwa, jangan bosan dengan tradisi, tetap berusaha mempertahankan musik melalui sholawat."karena ini warisan leluhur dan tetaplah meyiarkan sholawat dengan tradisi," ujarnya.
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: