•   05 May 2026 -

PT. Borneo Grafika Pariwara

Jl. Kapt Pierre Tendean, RT 02 No 9, Kelurahan Bontang Baru
Kecamatan Bontang, Kota Bontang, Kaltim - 75311

Madianto, Penjaja Kue Buroncong, Berjuang Demi Satu Kilo Beras

Bontang - Redaksi
27 Maret 2020
 
Madianto, Penjaja Kue Buroncong, Berjuang Demi Satu Kilo Beras Madianto saat menjajakan dagangannya di pagi hari

KLIKKALTIM.COM -- Gerobak tentengan yang telah usang. Pada bagian atas ada bekas jilatan api yang mencetak gambar hitam. Retakan di beberapa bagian gerobak jadi bukti kerja keras pemiliknya dalam mengolah bahan kue menjadi siap saji. Tak lain demi untuk mencari sesuap nasi.

Subuh telah berlalu, matahari mulai terbit. "Waktunya untuk mengabdi pada keluarga," gumam pria berusia 64 tahun ini. Yah, itulah perasaan hati Madianto, seorang pedagang buroncong yang setiap pagi harus menjajakan dagangannya demi menghidupi keluarganya.

Dengan tubuh yang telah dimakan usia, tangan yang tak lagi sekuat dulu, dengan harapan dapat mencari sesuap nasi dengan menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Gerobaknya menjadi saksi betapa ia harus menghadapi kehidupan dengan usianya yang tak lagi muda.

"Sudah 40 tahun, saya menjadi pedagang, yah namanya mencari rezeki, dimana yang ramai disitulah kita menjual," kata Madianto sambil mengelap keringat yang bercucuran di wajahnya. Madianto bercerita sembari terus mengolah buroncong dengan bara api.

Buroncong bukan satu-satunya yang ia jajakan. Kadang dagangannya berganti. Ini ia sesuaikan dengan analisanya menurut kebutuhan konsumen. Biasanya ia menjual es kolak, sambil melihat perkembangan kebutuhan masyarakat apa lagi yang harus ia jual setelan ini.

Namun saat ini, dirinya menjajakan buroncong setiap paginya, dipinggiran jalan Kelurahan Api-Api. Sambil menunggu pelanggan yang biasanya mampir untuk membeli dan hanya menyapa dengan senyuman.

Mardianto kini hidup hanya berdua istrinya di sebuah rumah kontrakan. Ia memiliki anak, namun kini sudah dewasa. Mereka tak lagi bersamanya karena telah memiliki keluarga masing-masing. Jerih payahnya dalam menjajakan dagangannya demi untuk memenuhi kebutuhan setiap harinya. Dagangannya juga digunakan untuk membayar kontrakan. Ia kumpulkan pundi-pundi sedikit demi sedikt untuk membayar kontrakan.

"Yah, kalau menjual di pinggiran jalan lumayan lah, istilahnya yang penting cukup membeli beras satu kilo," ungkapnya tersenyum penuh arti.

Tempat berdagang Mardianto hanya darurat saja. Ia memilih berpindah-pindah. Ia juga kerap menjenguk anaknya. Saat menjeguk anak di kala rindu itu, ia juga manfaatkan sambil berdagang di tempat anaknya.

Di lubuk hatinya tersimpan harapan untuk mempunyai tempat sendiri untuk berjualan, kalau bisa tak lagi di pinggiran jalan.

"Yah, kalau punya tempat sih mau, ditambah lagi usia saya semakin tua, mungkin kalau punya tempat, anak saya yang mengelolanya," ucapnya.

Saat ini, kata Madianto, pelanggan agak kurang yang datang. Tak lagi seramai dulu. Ini gara-gara virus Covid-19 yang ada di Bontang. Jalan-jalan kini sepi. Tempat dagangannya semakin sepi.

Kendati begitu, itu tidak mengurangi semangatnya untuk menjajakan dagangannya. Ia tetap ingin mencari rezeki tanpa bergantung pada orang lain. Selama dirinya masih bisa bergerak dengan usia yang semakin menua, dirinya akan selalu  semangat memenuhi kebutuhan keluarganya.


Reporter: Rahmat Shadr




TINGGALKAN KOMENTAR