Laporan Investigas Klik Kaltim di Lapas Bontang
Dari bilik di Lembaga Permasyarakatan Kelas II A Bontang para penipu menjarah para korban melalui penipuan segitiga atau triangle scam. Modus berpura-pura sebaga penjual sekaligus pemilik kendaraan dilakoni para komplotan ini. Gerakan mereka sistematis, mulai dari pencari data, eksekutor, penyedia ponsel dan pengelola rekening. Ditengarai, petugas memuluskan aksi para komplotan ini pun diduga menikmati ‘rampasan’ uang haram dari para pelaku. Bagaimana cara kerja sindikat ini bisa tumbuh subur di Lapas Bontang, simak hasil investigasi klik kaltim.
——
Abdi—nama rekaan—duduk meriung di atas dipan bertingkat bersama tiga rekannya di sebuah bilik hunian di salah satu blok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bontang. Di tangan mereka, gawai tak pernah lepas.
Jeruji besi tak menghentikan mereka menghasilkan uang. Dari balik tembok penjara, keempatnya tetap mengendalikan sindikat penipuan bermodus jual beli kendaraan melalui platform jual beli daring, seperti Facebook Marketplace dan OLX. Nilai uang yang mereka peroleh, menurut pengakuan Abdi, bisa mencapai ratusan juta rupiah hanya dalam waktu singkat.
Di dalam kelompok itu, setiap orang memiliki tugas. Tiga orang bertindak sebagai pengumpul data, termasuk Abdi. Mereka bertugas mencari calon korban. Sementara seorang lainnya menjadi penembak—istilah yang mereka gunakan untuk menyebut eksekutor yang mengendalikan percakapan hingga korban mentransfer uang.
Telepon seluler yang digunakan untuk menjalankan aksi tersebut, kata Abdi, disediakan dari dalam lapas dengan tarif sewa Rp1 juta per hari. Uang sewa dikumpulkan melalui tahanan pendamping atau tamping.
Secara resmi, tamping merupakan narapidana yang dipercaya membantu petugas menjalankan berbagai pekerjaan di dalam lapas.
Namun, menurut pengakuan Abdi, sebagian di antaranya juga menjadi perantara pengumpulan uang sewa telepon seluler. Klaim tersebut dibantah oleh pihak lapas.
Setiap hari, para pengumpul data menyisir iklan kendaraan di Facebook Marketplace maupun OLX. Mereka mencari pemilik mobil yang sedang menawarkan kendaraannya untuk dijual.
Target tidak hanya berasal dari Kalimantan. Mereka juga memburu korban di Pulau Jawa dan Sulawesi. Semakin jauh lokasi korban dari Bontang, semakin kecil peluang keberadaan mereka terlacak.
Demi melindungi keselamatan narasumber, redaksi menyamarkan identitas Abdi serta tidak mengungkap latar belakang maupun waktu pembebasannya.
Menurut Abdi, tahap pertama dimulai dengan menghubungi pemilik mobil yang memasang iklan. Ia berpura-pura menjadi calon pembeli dan menawar harga hingga tercapai kesepakatan. Seluruh foto, spesifikasi kendaraan, serta informasi yang telah dipublikasikan pemilik kemudian digunakan kembali.
Iklan tersebut lantas diunggah ulang menggunakan akun berbeda dengan harga yang jauh lebih murah. Tujuannya guna menarik perhatian calon pembeli sebanyak mungkin.
Ketika ada orang yang tertarik, peran Abdi berakhir. Selanjutnya, kendali diambil alih oleh penembak.
Eksekutor melanjutkan komunikasi melalui aplikasi percakapan menggunakan nomor telepon yang telah dipersiapkan sebelumnya, sebagian di antaranya merupakan nomor sekali pakai dengan kode negara asing.
Penipuan Segitiga
Di tahap inilah modus penipuan segitiga mulai dijalankan.
Calon pembeli diarahkan untuk melihat kendaraan langsung ke alamat pemilik mobil yang sebenarnya. Pada waktu yang hampir bersamaan, penipu juga menghubungi pemilik kendaraan dan memberi tahu bahwa akan ada seseorang yang datang melihat mobil. Pemilik bahkan diminta menyiapkan seluruh dokumen kendaraan agar transaksi tampak meyakinkan.
Agar penyamarannya tidak terbongkar, penipu tidak mengaku sebagai pemilik kendaraan. Sebaliknya, ia mengaku sebagai kerabat atau sepupu pemilik mobil. Kepada calon pembeli, ia berpesan agar tidak menyerahkan uang kepada pemilik kendaraan karena orang tersebut disebut tidak dapat dipercaya.
Sebaliknya, kepada pemilik kendaraan, penipu menggambarkan calon pembeli sebagai orang yang banyak bertanya dan cenderung merepotkan. Cara itu dilakukan agar kedua belah pihak tidak banyak berdiskusi mengenai proses pembayaran.
"Biasanya kita bilang ke pembeli, jangan titip uang di situ karena itu sepupuku suka main judi," kata Abdi.
{{2}}
Setelah penjual dan calon pembeli bertemu, penipu terus menghubungi keduanya agar transaksi segera diselesaikan. Ia mengarahkan pembayaran dilakukan melalui rekening yang sebelumnya telah dikirimkan kepada korban. Begitu uang ditransfer, seluruh komunikasi diputus.
Page Selanjutnya : Jejak Uang Hasil Penipuan
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: