•   05 May 2026 -

PT. Borneo Grafika Pariwara

Jl. Kapt Pierre Tendean, RT 02 No 9, Kelurahan Bontang Baru
Kecamatan Bontang, Kota Bontang, Kaltim - 75311

Jangan Abaikan Mereka yang Tidak Bisa Kerja Dari Rumah

Bontang -
26 Maret 2020
 
Jangan Abaikan Mereka yang Tidak Bisa Kerja Dari Rumah Kanan: pasukan kuning DLH Bontang yang bertugas di sepanjang Jalan RE Martadinata, Lok Tuan. Kiri: Aksal, nelayan pinggiran Bontang yang bermukim di Berbas Pantai. (Foto-foto: Fit Wahyuningsih).

KLIKKALTIM.com -- Selepas menyapu di sepanjang Jalan RE Martadinata, Esther (52) menepi di sebuah halte, tepat di muka Pasar Citra Mas Lok Tuan.

Di sudut halte itu ternyata dia menyimpan tas belanja. Di dalamnya terdapat botol air dan kotak makanan plastik. Dia meraih botol air, meneguk isinya dengan bersemangat. Tak sampai semenit, air di botol itu nyaris tandas.

"Yang pasti orang kayak kita (penyapu jalan, red) enggak mungkin kerja dari rumah. Kalau mau kerja dari rumah itu namanya berhenti kerja," ujarnya sembari berseloroh, kala KlikKaltim, Jumat (27/3) siang, menanyakan pendapatnya soal kebijakan pemerintah meminta masyarakat melakukan segalanya dari rumah. Termasuk kerja dari rumah (Work From Home/WFH).

Kebetulan bersama Esther kala itu ada seorang kawannya, Asriana, juga penyapu jalan di sekitar Lok Tuan. Esther sudah melakoni pekerjaan ini sejak 2003. Itu berarti sudah 17 tahun dia jadi bagian pasukan kuning. Sementara Asriana, lebih junior sedikit, 12 tahun pengabdian.

Saban hari, keduanya bekerja dalam sif. Sif pertama mulai menyapu pukul 05.30 Wita hingga 10.00 Wita. Sif kedua pukul 13.00-16.00 Wita. Namun untuk sif kedua sebenarnya kondisional. Bila tugas rampung sebelum waktunya, mereka boleh pulang selekasnya.

"Ada corona atau tidak yah tetap begini. Kalau dibilang takut, yah ada sedikit. Tapi bagaimana, kalau enggak kerja (Menyapu) kita mau makan apa," kata Esther yang banyak benarnya.

Bahkan sejak ditetapkan sebagai KLB, baik Esther dan Asriana tidak mendapat perlindungan agar tak terpapar virus ini. Jangan bicara masker, handsanitzer, atau  pelindung lain. Semua tidak ada.

Hanya Asriana yang pakai masker, itupun inisiatif sendiri. Bukan diberi instansi pemerintah yang menaungi mereka.

"Oh masker ini saya sendiri yang beli. Bukan dikasih," bebernya.

Lain lagi kisah seorang nelayan di Selatan Bontang yang sempat KlikKaltim temui. Namanya Aksal, 32, nelayan di Berbas Pantai.

Pria yang sudah 15 tahun menjadi nelayan ini bahkan tak mengerti benar apa itu virus corona. Dia tahu virus itu sedang dibicarakan dimana-mana, namun dia tak tahu, 'apa bisa dibuat' virus itu terhadap manusia.

"Pernah sih saya lihat di Facebook. Ya virus, tapi enggak paham juga saya apa yang bisa dibaikin sakit," ujarnya sembari menikmati rokok menthol yang bertengger di bibirnya.

Rasa takut, ada. Namun bila diminta kurangi aktivitas di luar ruangan, Aksal menolak. Karena lagi-lagi, mau makan apa anak istrinya. Kalimat itu: mau makan apa, selalu jadi jawaban pamungkas ketika meminta seseorang membatasi aktivitas luar ruangan.

"Ya enggak mungkin dibatasi. Kita kan nelayan. Lagian kayaknya tidak ada corona dekat. Kan saya banyakan di laut," kata Aksal, entah itu serius, atau sarkasmenya saja.

Esther, Aksan hanya segelintir dari banyaknya warga Bontang yang tidak bisa kerja dari rumah (Work From Home/WFH). Mereka tetap pergi kerja seperti biasa, entah virus ini ada atau tidak. Dan praktis, mereka tidak akan tersentuh dengan kebijakan pemerintah yang keren banget itu— WFH. Medan kerja mereka wajib di luar ruangan, tidak bisa ditawar-tawar

Beda halnya dengan pekerja sektor formal, atau katakanlah orang kantoran. Yang bisa mengerjakan tugas dari laptop, selama terkoneksi melalui internet, tugas bisa dikirim, atau menggelar rapat virtual (Video conference) dan segalanya klir. Esther, Aksal, tidak mungkin begitu. Mereka tak miliki kemewahan itu.

Kendati pun virus corona sudah dinyatakan sebagai KLB di Bontang, itu tetap tak berarti banyak bagi mereka.

Reporter : Fitri Wahyuningsih




TINGGALKAN KOMENTAR