•   06 September 2026 -

PT. Borneo Pariwara Mandiri

Jl. Mulawarman, Gang Arumbia 1, Kelurahan Bontang Baru,
Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang, Kaltim - 75311

Investor Cina Berminat Bangun Sistem Pengolahan Air Laut jadi Sumber Air Bersih di Bontang

Bontang - M Rifki
05 September 2026
 
Investor Cina Berminat Bangun Sistem Pengolahan Air Laut jadi Sumber Air Bersih di Bontang Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni.

BONTANG - Investor asal China dikabarkan melirik Bontang untuk menanamkan modal dalam pengelolaan air laut melalui desalinasi untuk menjadi sumber air bersih.

Informasi itu disampaikan Wali Kota Bontang Neni Moernaeni kepada awak media usai melaksanakan Salat Istisqa, Sabtu (5/9/2026) pagi tadi.

"Sudah ada yang kirim penawaran. Perusahaan asal China. Mereka tertarik untuk investasi desalinasi. Apalagi Bontang terkenal dengan mayoritas wilayahnya adalah lautan," ucap Neni.

Neni menyambut baik rencana pengelolaan air laut menjadi sumber utama air bersih bagi masyarakat Bontang. Sebab, saat ini Bontang masih berharap pada air dari sumur bawah tanah.

Di mana, kondisi air bawah tanah memiliki efek yang cukup mengkhawatirkan. Misalnya, terjadinya penurunan tanah karena air terus disedot.

"Coba saja dihitung, per hari bisa 10 juta kubik yang dipakai. Nah, desalinasi ini jangka panjang. Ini kita akan panggil investor untuk memaparkan rencana mereka," sambungnya.

Selain mencari sumber air alternatif, Pemkot Bontang juga menyiapkan langkah untuk menjaga daerah resapan. Salah satunya melalui penggalakan penanaman pohon serta mempertahankan ruang terbuka hijau dengan target lebih dari 30 persen.

Sementara itu, pembatasan distribusi air juga dilakukan melalui sistem penggiliran oleh Perumda Air Minum (PDAM) untuk mengantisipasi berkurangnya pasokan. Kondisi tersebut terjadi setelah pasokan air disebut mengalami penurunan hingga sekitar 50 persen.

Neni menegaskan, penggiliran distribusi dilakukan sebagai langkah mitigasi agar cadangan air bawah tanah tidak terus terkuras selama kemarau belum berakhir.

"Kalau sekarang deep well kita masih dalam batas aman-aman saja, tetapi kan kita harus melakukan giliran, antisipasi, mitigasi. Kalau enggak, kan habis juga," pungkasnya. (*)






TINGGALKAN KOMENTAR