Cerita Guru SMP di Bontang Mengajar Dari Rumah: Rindu Suasana Kelas, Namun Tak Berdaya Dengan Ancaman COVID-19
Rahayu Novita, guru SMP Negeri 3 Bontang Selatan kala mengecek tugas yang dikumpulkan murid-muridnya. (Ist).
KLIKBONTANG.com -- Rahayu Novita terkekeh kala menatap layar laptop 14 inci miliknya. Bukan apa-apa. Sebab salah seorang muridnya bernama Nur Rizka dari kelas 8 B SMP Negeri 3 Bontang Selatan tengah merengek minta perbaikan nilai. Permintaan itu dikirim melalui aplikasi WhatsApp yang terintegrasi melalui laptop. Di sana, sang murid mengirimkan gambar kertas jawaban disertai nilai yang diperoleh dari mata pelajaran Bahasa Indonesia.
''Bu, kok nilai saya segini saja. Bisa perbaikan enggak, bu? Bisa yah bu,'' rengek sang murid dalam pesan instan.
''Anak ini memang rajin sekali. Lihat nilainya kurang memuaskan, dia pengin betul perbaikan,'' ujar Novita Rahayu kala disambangi KlikBontang di kediamannya di Perum HOP Bontang, Kamis (19/3/2020) pagi.
Rahayu Novita-- Selanjutnya Ayu, adalah guru kelas 8 dan 9 di SMP Negeri 3 Bontang Selatan. Di sana ia mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hari-hari Ayu, dan ratusan guru lain di Bontang, mulai SD hingga SMA dalam 2 pekan mendatang lebih kurang serupa: terpaku di rumah, namun mesti intens memegang alat komunikasi. Seperti laptop, komputer, dan ponsel pintar. Sebab untuk mencegah penyebaran virus corona di Bontang, Pemkot meliburkan seluruh sekolah. Terhitung mulai Selasa (17/3/2020) hingga 14 hari kedepan. Sekolah libur, namun bukan untuk liburan. Tidak belajar di kelas, namun harus belajar jarak jauh. Belajar dari rumah. Belajar melalui jaringan saling terhubung.
Publik barangkali bertanya, sebenarnya bagaimana teknis belajar dari rumah itu?
Dikatakan Ayu, sejatinya pembelajaran kurang lebih serupa. Perbedaan mendasar karena guru tak bisa memantau murid langsung. Serta tak perlu repot menggenakan seragam harian laiknya di sekolah.
Selain itu, jam belajar mengajar lebih fleksibel. Bila di sekolah jam belajar sudah saklek, mulai pukul 07.30 Wita-15.00 Wita, maka belajar dari rumah lebih santai. Dalam proses ini, baik guru dan murid dapat menyambinya dengan kegiatan lain yang tak mungkin dilakukan di sekolah. Semisal belajar sembari makan, minum, dan mendengarkan musik. Terdengar enak sekali, memang. Kata Ayu, ini justru lebih menantang.
''Kita enggak bisa lakukan pendampingan langsung pada anak-anak. Bagaimana pun, kemampuan anak-anak dalam menyerap pelajaran berbeda. Ada yang perlu dibimbing pelan-pelan. Kalau jarak jauh begini, ya kita tahulah, tidak mudah,'' bebernya.
Untuk memastikan murid-murid tinggal di rumah, belajar, melakukan kegiatan produktif alih-alih sebaliknya, apalagi liburan. Ayu memberi tenggat waktu untuk setiap tugas diberikan. Katakanlah tugas diberikan pukul 08.00 Wita. Maka tugas wajib disetor malam harinya pukul 20.00 Wita.
''Sengaja saya beri kelonggaran [Waktu] mengumpulkan tugas. Karena mata pelajaran lain mungkin ada tugasnya juga. Supaya anak-anak tidak merasa berat,'' urainya.
Ini juga merupakan strategi untuk mengabsen murid. Karena dalam lembar tugas diberikan, semua dimasukkan dalam google form. Ada waktu pengerjaan tugas. Bila tugas dikumpul melampaui batas waktu, akses google form otomatis terkunci. Pun dapat melihat, siapa saja telah mengumpul tugas.
Sekitar 85 persen murid Ayu di kelas 8 telah miliki ponsel. Mudah saja mengerjakan tugas bagi mereka. Tinggal buka google form, menjawab soal yang disediakan, kemudian kirim bila telah rampung. Praktis, paperless pula.
Sementara bagi yang tak miliki ponsel, maka soal akan dikirim ke group WA antara guru mata pelajaran dan orang tua. Disana Ayu bakal mengirim gambar soal, dan meminta orang tua melanjutkan ke anak. Untuk kemudian dikerjakan sesuai instruksi.
Metode belajar mengajar dalam jaringan (Online) seperti ini memang terlihat 'lebih enak'. Namun bagaimana pun, insting pendidik dalam diri Ayu dan ratusan pendidik lain tak bisa disangkal. Belajar online menggerus interaksi langsung guru dan murid; tak ada afeksi terjadi diantara keduanya.
Sementara metode konvensioal (Di kelas). Kendati ribet, namun Ayu merindukan semua itu. Ia menikmati kala bertatap muka, dan interaksi langsung dengan murid-murid di kelas.
''Pastinya rindu suasana kelas, mbak. Sangat bahkan,'' akunya.
''Kalau di WA saya lihat ada anak-anak online. Nah, kadang saya video call. Tanyain, gimana belajarnya. Apa ada kesulitan,'' tambah Ayu.
Terkait kebijakan pemerintah meliburkan sekolah demi mengantisipasi penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Ayu cukup mahfum tentu kebijakan itu melahirkan pro-kontra. Secara pribadi, Ayu sepakat dengan langkan itu. Tak lain karena penyeraban virus corona demikian mengkhawatirkan. Terlebih, fakta bahwa virus corona dapat meruntuhkan siapapun; tua muda, sebelumnya sakit atau tidak, bahkan dapat menyebar melalui sentuhan dan udara.
''Sepakat saja mbak. Toh ini demi kebaikan kita bersama. Terutama buat anak-anak,'' jelas Ayu semabri kembali mengecek tugas muridnya di google form.
Lebih jauh, Ayu tidak menutup fakta bahwa ada pula murid yang justru keliharan di luar ketika pemerintah meminta mereka diam di rumah. Sebabnya Ayu berharap orang tua turut proaktif memonitor anak di rumah. Sementara untuk pemerintah, Ayu berharap ada pengawasan dilakukan di jalan atau pusat kota di jalam sekolah. Misalnya meminta Satpol PP razia ke cafe, atau tempat hiburan dan nongrong lain di jam sekolah (07.30 Wita-15.00 Wita).
''Mungkin bisa dipertimbangkan, Satpol PP razia di jalan ketika jam sekolah. Jangan sampai anak-anak kita diminta belajar di rumah, mereka malah keluyuran. Kalaupun tidak belajar, setidaknya tetap di rumah. Karena kita enggak mau anak-anak terpapar virus corona,'' pungkasnya.
Reporter : Fitri Wahyuningsih
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: