•   26 May 2022 -

Buntut Unjuk Rasa Mengungkap Fakta Baru; Honor Menunggak 2 Tahun hingga Tuntutan Copot Dosen Arogan

Bontang - M Rifki
01 Oktober 2021
Buntut Unjuk Rasa Mengungkap Fakta Baru; Honor Menunggak 2 Tahun hingga Tuntutan Copot Dosen Arogan Tim Penyelesaian Hak Dosen Universitas Trunajaya menggelar jumpa pers terkait duduk perkara aksi demonstrasi di kampus/Klik Kaltim

KLIKKALTIM.COM - Buntut dari aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Trunajaya di kampusnya mengungkap fakta baru. 

Alasan mahasiswa aksi karena Kartu Hasil Studi mereka tertahan. Dosen bersangkutan enggan memberikan rapor para anak didiknya karena honor mereka menunggak 2 tahun. 

Hari ini, Jumat (1/10) para dosen yang tergabung dalam Tim Penyelesaian Hak Dosen Universitas Trunajaya angkat bicara. 

Di hadapan wartawan, mereka mengecam aksi represif oleh oknum dosen saat membubarkan mahasiswa yang menggelar aksi. 

Selain itu, mereka juga menuntut pihak Yayasan Pendidikan Miliana, pengelola Kampus Unijaya, segera membayar tunggakan honor para dosen. 

Klik Juga : Rektor Unijaya Angkat Bicara Soal Demo BEM yang Dibubarkan Dosen Pakai Sapu

Anggota tim, Lilik Rukitasari menyebutkan, tunggakan kampus ke para pengampu sejak 2019 lalu diprediksi Rp 1,4 miliar lebih. 

"Yah sekitar segitu jika dikalkulasi sejak 2019 lalu," ungkap Lilik saat menggelar jumpa pers di Pendopo Rujab Wali Kota, Jumat (1/10/2021). 

Persoalan ini sejatinya sudah pernah diadukan ke Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi, Kementerian Ristekdikti. 

Hasilnya pun sudah mewajibkan agar yayasan memperbaiki manajemen keuangan mereka.

"Tapi, hingga sekarang sistem Yayasan masih tidak memperdulikan nasib para tenaga pendidik," ucapnya. 

Alih-alih memperbaiki manajemen, tunggakan terus membengkak. Puncaknya para dosen menahan KHS mahasiswa yang berbuntut pada aksi demonstrasi. 

Tuntut Oknum Dosen Arogan Dicopot 

Di samping menuntut pembayaran honor bagi dosen, tim yang beranggotakan 27 pengajar di Unijaya meminta yayasan mencopot oknum dosen arogan. 

Oknum dosen yang membubarkan paksa para mahasiswa itu dinilai mencederai nilai-nilai Tridharma Perguruan Tinggi. 

Menurutnya, dosen harus mencerminkan nilai-nilai ilmiah dalam membangun kapasitas berfikir mahasiswa. Bukan sebaliknya, cacian dan makian kepada mahasiswa saat berunjuk rasa. 

"Itu sangat merugikan kami yang berprofesi sebagai dosen. Kami tidak bisa diam, dengan sikap arogansi oleh salah satu oknum," sambungnya.

"Harus tegas, bahkan kami sayangkan sikap Rektor yang seolah melakukan pembiaran terhadap dosen yang bertindak semena-mena," terangnya. 

Tanggapan Yayasan 

Pembina Yayasan Pendidikan Meliana, Chelly Amalia, meluruskan tunggakan honor dosen sudah dibayar sebagian. 

Kata dia, dari total tunggakan tersebut sebagian sudah dilunasi. Dia memastikan seluruh piutan yayasan ke tenaga pengajar akan dibayar, walaupun dengan cara bertahap. 

"Pihak yayasan akan bertanggung jawab atas penyelesaian gaji dosen yang tertunggak," kata Chelly. 

Pembayaran honor para dosen bersumber dari SPP Mahasiswa. Pembayaran iuran dari mahasiswa juga banyak menunggak. 

"Kita pahami, kondisi ini juga terjadi karena pandemi Covid-19. Karena memang kampus sampai saat ini masih bertumpu pada pembayaran mahasiswa," jelasnya. 

Lebih lanjut, yayasan berupaya menyiapkan infrastruktur yang layak dalam proses belajar mengajar di kelas. 

"Kita dapat gedung ini dengan upaya pihak Yayasan. Selama ini yayasan terus yang dihujat. Kita sebagai manusia juga tentunya memiliki keterbatasan dalam mengambil keputusan," sambungnya. 

Sedangkan, tuntutan para tim agar memecat oknum dosen arogan, Chelly memilih bungkam. 

Dirinya harus meminta pertimbangan dari beberapa pihak yang perlu diajak memutuskan kebijakan tersebut. 

"Pihak yayasan memerlukan pertimbangan lain untuk mengambil keputusan," pungkasnya.




TINGGALKAN KOMENTAR