•   17 January 2026 -

PT. Borneo Grafika Pariwara

Jl. Kapt Pierre Tendean, RT 02 No 9, Kelurahan Bontang Baru
Kecamatan Bontang, Kota Bontang, Kaltim - 75311

Ancaman Longsor Hantui Warga Kanaan, Jarak Rumah dan Tebing Bekas Galian C hanya 6 Meter

Bontang - M Rifki
16 Januari 2026
 
Ancaman Longsor Hantui Warga Kanaan,  Jarak Rumah dan Tebing Bekas Galian C hanya 6 Meter Area rawan longsor di Kampung Timur RT 1 Kelurahan Kanaan, Bontang Barat.

BONTANG - Warga Kampung Timur yang bermukim di RT 01, Keluharahan Kanaan, Bontang Barat terus dihantui ancaman bencana longsor. Sebab area permukiman mereka hanya berjarak 6 meter dari tebing bekas tambang galian C. 

Kepala Pelaksana BPBD Bontang Usman melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik Ismail mengatakan, jarak rumah yang terlalu dekat dengan tebing membuat potensi bencana longsor kian tinggi. Apalagi tebing yang berada persis di sisi rumah itu bukan tanah padat, melainkan tanah pasir yang ditinggalkan aktivitas tambang galian C. 

"Sudah 2 kali kan di sana. Tidak menutup kemungkinan terjadi lagi. Karena tebing itu pasir," ucap Ismail. 

Ismail membeber di area rawan itu berdiri 5 rumah yang dihuni 16 jiwa. Sejauh ini pihaknya terus memberikan imbauan kepada warga agar waspada terhadap longsor susulan. 

Namun tak sampai disitu, Pemkot Bontang juga menurunkan eksavator mini untuk membuat jalur air. Langkah tersebut diharapkan dapat meminimalisir terjadinya bencana susulan. 

Disinggung soal relokasi warga, Dia menyebut pihaknya berkoordinasi dengan pihak Kelurahan serta OPD terkait. 

"Solusi memang akan kami sampaikan. Tapi perlu koordinasi lanjutan," sambungnya. 

Sebelumnya diberitakan, Longsor terjadi di RT 01 Kampung Timur, Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat, pada Kamis (15/1/2026) pagi. Peristiwa tersebut berdampak pada empat bangunan.

Lurah Kanaan, Salmon, menjelaskan longsor terjadi di sekitar tebing bekas tambang galian C. Struktur tanah yang tidak lagi padat diperparah oleh curah hujan tinggi, sehingga memicu pergerakan tanah.

“Permukaan tebing sudah tidak keras. Hujan deras membuat tanah longsor,” ujar Salmon.

Selain longsor, banjir juga menerjang kawasan tersebut. Material pasir terbawa aliran air hingga masuk ke dalam rumah warga. Ketebalan pasir yang cukup banyak memaksa sejumlah warga meninggalkan tempat tinggalnya sementara waktu. 

Wawali Perintahkan OPD Kaji Opsi Relokasi

Ancaman bencana longsor ini menjadi catatan serius Pemkot. Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris menginstruksikan tim Kelurahan Kanaan, BPBD, dan OPD teknis membuat laporan utuh sebagai acuan menetapkan kebijakan.

"Ini butuh perhatian serius. Jangan tunggu ada korban baru bertindak. Ini dikaji dulu. Biar ada informasi yang valid," ucap Agus Haris kepada awak media. 

Dia juga meminta laporan serta kajian jangan hanya di satu kawasan, tapi pemetaan seluruh titik rawan bencana di Kota Bontang. Proses ini diyakini dapat memberikan dampak yang lebih luas dan tepat.

 Laporan ini juga akan menjadi bahan untuk pembahasan program prioritas di tingkat Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tingkat RT, Kelurahan, dan tingkat Kota. 

"Yang penting di sana dulu. Syukur kalau warga sukarela pindah. Tapi kalau tidak Pemkot kan harus fasilitasi. Cuman anggarannya besar itu lah pentingnya laporan resmi," ucapnya. 

Di sisi lain, AH menduga penyebab banjir dan tanah longsor disebabkan kerusakan lingkungan akibat pembiaran aktivitas galian C. 

Pemerintah Provinsi pun juga diminta tak menutup mata terhadap fenomena tersebut. Selain menindak tegas aktivitas ilegal, perlu dilakukan kajian untuk penetapan kawasan yang diperbolehkan galian C. 

"Karena masyarakat juga memerlukan material untuk pembangunan. Harusnya dijadikan pertimbangan," pungkasnya.(*)






TINGGALKAN KOMENTAR