Kisah Kadir Menyapu Jalanan Bontang Sejak Belia ; Putus Sekolah & Terpaksa Bekerja

Profil - Yayuk
25 Oktober 2020
Kisah Kadir Menyapu Jalanan Bontang Sejak Belia ; Putus Sekolah & Terpaksa Bekerja Kadir (31) kini menjabat posisi sebagai pengawas petugas kebersihan. Posisinya dia rintis sejak 16 tahun lalu.

KLIKKALTIM.COM- Kala pagi masih gelap. Saat orang-orang masih terlelap, Kadir (31) dan bersiap-siap menaggalkan rumah. 

Berbekal sapu lidi dan serok sampah. Kadir sudah menyusuri aspal jalanan, bergumul dengan debu beterbangan dari sisa-sisa tanah yang tersapu di sisi-sisi jalan.

Lengannya berayun seirama dengan langkah kaki. Menggiring pasir dan sampah-sampah plastik ke congor serok. 

Rutinitas ini jadi agenda hari-hari Kadir. Sudah 16 tahun ia menjalani profesinya. Berpeluh di jalanan saban pagi hingga menjelang siang. 

Sejak putus sekolah, Kadir muda sudah bergelut dengan sampah. Usianya masih 15 tahun kala itu. Masih sangat belia. Saat remaja diusianya disibukkan dengan bermain dan hura-hura, tidak bagi kadir

Kadir sudah dihadapkan dengan pahitnya kehidupan. Besar dari keluarga miskin harus menyadarkan dirinya untuk mencari rupiah. 

Sejak itulah ia bersama 174 pasukan kebersihan Bontang. Saat itu masih jumlah petugas tak segemuk sekarang. 

"Mulai bekerja sebagai penyapu jalanan di tahun 2003, pas itu saya masih 15 tahun," ungkap ayah 3 anak ini. 

Ia mulai menyapu daun-daun kering dan sampah plastik yang berserakan di sepanjang jalan dan trotoar disekitar lokasi lampu merah, Jalan bayangkara, Rawa Indah, kelurahan Gunung Elai, bontang utara.  

Setiap hari pekerjaan itu ia lakukan demi memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya. Pendapatan Rp 2,5 juta pun harus dicukup-cukupkan demi memenuhi kebutuhan hariannya. 

"Saya punya istri dan 3 anak yang harus saya biayai cukup tidak cukup harus di cukupkan, apalagi rumah masih nyewa," ujarnya kembali.

Bekerja dari pukul 06.00 Wita sampai 10.00 Wita mengumpulkan sampah-sampah kering itu ke keranjang.

Di usianya yang masih tergolong muda, tak menutup kemungkinan kadir mendapat pekerjaan yang lebih baik, namun ia enggan mencari pekerjaan yang lain.

"Bukan soal gaji besar yang saya fikirkan tapi kenyamanan kerja sampai saya bertahan menajadi tukang sapu jalanan selama 16 tahun ini, apalagi rasa kekeluargaan sesama rekan kerja yang sangat ramah" ujarnya.

Kesabaran dan rasa sukur yang besar menjadikan ia kemudian diangkat menjadi pengawas kebersihan.

"Saya benar-benar bekerja dari nol tidak ada orang dalam, 16 tahun saya jadi tukang sapu jalanan baru terangkat tahun ini sebagai pengawas kebersihan," ungkapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR