Mengenang Warung Kopi Tertua di Bontang yang Bertahan Hingga Sekarang

History - Asriani
14 September 2020
Mengenang Warung Kopi Tertua di Bontang yang Bertahan Hingga Sekarang Sabariah generasi kedua dari Warkop H Samsudin menyeduh kopi bagi pelanggannya.

KLIKKALTIM.COM -- Sedari dulu peradaban di Bontang Kuala sudah ramai. Jauh sebelum kota ini berbenah.

Kampung tua di pesisir ini telah menjadi pelaku sejarah pembangunan kota.

Pernah jadi pusat pemerintahan hingga sekarang pusat pariwisata. Kisah Bontang Kuala selalu abadi, tak lekang oleh waktu dimakan usia.

Kisah legenda itu masih bisa disaksikan hingga kini. Dari meja lapak sebuah kedai kopi. Yang usianya jauh lebih tua ketimbang Kota Bontang.

Dari dipan yang berdecit, kaki bangku yang bergesek dengan lantai kayu seolah bercerita kisah jaya warung kopi ini.

Warung Kopi H Samsudin sudah berdiri sejak 1980an. Dan masih bertahan sampai hari ini.
Lokasinya tepat di jalan utama Bontang Kuala. Masih berdiri kokoh di atas muara sungai dengan pilar-pilar penyangga dari ulin.

Samsudin kini telah tiada. Usaha rintisannya dilanjutkan putrinya, Sabariah.
Generasi kedua warkop ini pun tetap menjaga kultur warkop seperti sedia kala. "Sampai sekarang cara buat kopinya biasa aja, sama seperti bapak dulu,"  kenang Sabariah.

Sabariah mengenang, masa-masa kejayaan kopi ayahnya. Dulu, kedainya tak pernah sepi. Pengunjung mulai kongkow mulai pagi hingga menjelang tengah malam.

Tak hanya warga Bontang Kuala saja yang menjadi pelanggan tetap. Pun akhir pekan pengunjung dari luar BK ikut menikmati segelas kopi di kedainya. Sekadar nimbrung di dalam obrolan. Atau menyapa rekannya.

Mulanya kedai Kopi Samsudin berdiri di Berbas-saat itu masih desa wilayah Kutai Kartanegara.

Penghujung 1980an, Samsudin lalu menyewa rumah di BK. Kembali melanjutkan usahanya berjualan kopi dan nasi kuning. Disela-sela kesibukannya sebagai pemahat kayu.

Sejak pagi-pagi buta pelanggan sudah nongkrong di lapaknya. Sarapan nasi kuning ditemani kopi hitam. Ataupun kopi susu.

Harga kopi segelas kala itu dibandrol Rp 1 rupiah. Tentunya inflasi belum gila-gilanya seperti sekarang.

Memasuki 2013 harga kopinya sudah menyesuaikan inflasi. Per gelasnya Rp 3 ribu. Dan kini menjadi Rp 5 ribu per gelasnya.

Para ibu-ibu di sekitar pun tak kalah girangnya. Kecipratan untung dari kudapan yang dititip di warung kopinya. Begitu terus berlanjut hingga hari ini.

Sudah lebih 40 tahun kopi H Samsudin berdiri. Pelanggannya para penyintas generasi. Kini bukan lagi para pria gagah. Mereka yang saat muda pernah ngopi di sini, acapkali datang sembari mengenang masa lalu.

Walaupun masih ada saja pelanggan tetap menghabiskan waktu di kedai kopinya. Namun, jauh berbeda dengan masa jaya silam. "Sejak bapak meninggal, buka nya sampai jam 11.00 Wita saja," pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR