•   04 October 2022 -

Nostalgia! PKT Bontang dengan Segudang Pemain Bintang

Bontang - Redaksi
23 September 2022
Nostalgia! PKT Bontang dengan Segudang Pemain Bintang Skuad Bontang PKT yang berkompetisi di Liga Dunhil. Era emas barisan bukit tursina.

KLIKKALTIM - Atmosfir sepak bola di Kota Bontang kembali bergelora setelah kabar bangkitnya Bontang FC. Namun jauh sebelum itu, klub ini pernah begitu perkasa di liga utama indonesia dengan sederet pemain bintang.   

Kala itu klub ini masih bernama PKT Bontang. Prestasi klub berjuluk Laskar Bukit Tursina ini juga tak main-main. Ketika Liga Indonesia pertama bergulir musim 1994/1995, mereka langsung menembus semi-final. Kemudian di Liga Bank Mandiri 1999/2000, PKT Bontang menjadi runner-up usai ditundukkan PSM Makassar dengan skor tipis 3-2.

Kiprah PKT Bontang di masa jayanya tak lepas dari kontribusi Diklat Mandau, semacam akademi pemain junior yang menelurkan banyak pemain muda berkualitas. Ditambah sokongan dana dari PT. Pupuk Kaltim, membuat PKT Bontang sempat disinggahi beberapa pemain top di akhir tahun 1990-an.

Lalu, masih ingatkah kamu siapa saja para pemain bintang PKT Bontang? Tak perlu berlama-lama, langsung saja lihat daftar di bawah ini untuk bernostalgia!

1. Marthen Tao

Sebelum bertabur gelar di Arema Malang, striker asal Sorong, Papua, ini berkarier di PKT Bontang. Selama empat musim ia berseragam Laskar Bukit Tursina, tepatnya di tahun 1999 sampai 2003. Walau posturnya mungil, ia sangat lincah dan punya insting gol tajam.

2. Ponaryo Astaman 

Nama Ponaryo Astaman mulai mencuat ketika membawa PKT Bontang menembus final Liga Indonesia 1999-2000. PKT memang gagal juara. Tapi, berkat penampilannya sebagai penopang eks kapten Timnas Indonesia, Fakhri Husaini, di lini tengah, Ponaryo dipanggil memperkuat Timnas Indonesia U-23 untuk Sea Games 2001 di Malaysia.

3. Djet Donald La’ala

Djet lahir di Binggai, sebuah kabupaten yang terletak paling ujung di Sulawesi Tenggara. Kampung halaman Djet sebenarnya memiliki banyak tunas pesepak bola andal, tetapi karena ketiadaan SSB yang berkualitas, akhirnya banyak dari mereka yang merantau ke luar kota bahkan luar pulau untuk mengasah kemampuannya.

Djet kecil kemudian bergabung dengan Persipal Palu sebelum diangkut oleh PKT Bontang, klub yang berhasil meroketkan namanya sebagai bek tengah tangguh. Program pelatihan PKT terkenal dengan nama Diklat Mandau, yang melahirkan nama-nama besar seperti Bima Sakti, Ponaryo Astaman, dan Fachri Husaini.

Bek yang juga pernah menjadi kapten PSM Makassar dan membela Persija Jakarta ini sempat menjadi pilar lini belakang timnas Indonesia di Piala Asia 2000 dan Piala Tiger 2000. 

4. Fakhri Husaini

Mengawali karier di Bina Taruna pada 1984-1989, Fakhri Husaini muda pindah ke Lampung Putra pada 1989-1990. Tidak lama memang di Lampung Putra, ia keburu dilirik tim besar saat itu, Petrokimia Putra.

Bersama Petrokimia Putra, Fakhri Husaini juga hanya setahun yakni pada 1990-1991. Namanya kemudian melegenda setelah bergabung dengan PKT Bontang pada 1991-2001.

Rentang 10 tahun dijalani bersama PKT Bontang, membuat ia menjadi legenda klub tersebut. Di level Timnas Indonesia, Fakhri Husaini adalah jenderal lapangan tengah skuad Garuda.

Berposisi sebagai gelandangs serang, visinya luar biasa hebat. Gerakan dan gocekannya sangat indah dan pendukung Timnas Indonesia era itu selalu menunggu aksi dari Fakhri Husaini.

5. Aris Budi Prasetyio

Bukan pemain jebolan Diklat Mandau, tapi singgahnya bek setinggi 182 meter ini meningkatkan ketangguhan lini belakang Laskar Bukit Tursina secara signifikan. Ia membela PKT Bontang tahun 1995-2000 dan ikut mencetak satu gol di final Liga Bank Mandiri 1999/2000.

6. Bima Sakti
Namanya memang lebih harum di PSM Makassar dan Persema Malang, tapi Bima Sakti tentunya tak akan melupakan PKT Bontang yang berjasa besar mengorbitkan kariernya. Pemain ini termasuk lulusan Diklat Mandau, dan memperkuat PKT Bontang di tahun 1994-1995.

7. Sumardi

Sumardi merupakan pemain yang layak disebut sebagai legenda PKT. Dia adalah pemain yang sangat setia bagi klub tersebut. Jam terbangnya yang tangguh sempat membawa PKT tampil trengginas pada medio 1990-2000. Hal itu pula yang mengantarkan namanya bisa memperkuat Timnas Indonesia pada masa itu.

Pemain yang punya ciri khas rambut kuncir ini justru semakin matang pada usia senja. Sempat hengkang ke Deltras, Persisam Putra, hingga kembali ke Bontang FC, Sumardi akhirnya gantung sepatu pada usia 41 tahun di Mitra Kukar.




TINGGALKAN KOMENTAR