Ikan di Keramba Loktuan Lagi-Lagi Banyak yang Mati, Pengusaha Desak Hasil Lab Segera Dibuka
Tangkapan layar ikan di keramba Kampung Selambai yang mati. (Ist)
BONTANG – Dugaan pencemaran lingkungan di perairan Kampung Selambai, Kelurahan Loktuan, kembali mencuat setelah ikan di tempat budidaya keramba mati massal pada Kamis (5/11/2026) sore.
Ketua Kelompok Budidaya Ikan Biru Loktuan, Ardi, menyampaikan bahwa ikan banyak yang mati dan mengalami kondisi mabuk (teler) sejak Selasa (3/11/2026).
Total sudah ratusan ikan yang mati. Insiden itu menimpa setidaknya 11 anggota dengan total keramba mencapai 17 titik. Setiap keramba bahkan kehilangan sekitar 50 ekor ikan dalam sehari.
"Ini kalau dibiarkan berlarut, kami alami kerugian. Airnya hitam dan berbusa lagi. Kami minta hasil sampling cepat keluar. Kemudian dibuka secara publik apa penyebab ikan mati," ucap Ardi.
Nelayan setempat mengaku tidak berani mengonsumsi ikan tersebut karena kematiannya dinilai tidak wajar. Alhasil, ikan-ikan itu hanya dibuang.
"Kalau kami konsumsi, tidak tahu juga apa kandungan di dalamnya," sambungnya.
Selama dua hari terakhir, Pemerintah Kota Bontang telah mengambil sampel air dan ikan yang mati massal di lokasi tersebut. Kendati demikian, kejadian berulang ini menimbulkan tanda tanya.
Sebab, kejadian serupa pernah terjadi sekitar tiga bulan lalu. Hanya saja, hasil pengujian sampel ikan dan air saat itu tidak pernah dibuka secara publik.
"Ini yang terparah. Kami desak terbuka. Jangan korbankan kami," ungkapnya.
Sebelumnya diberitakan, Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) akhirnya mengambil sampel air yang diduga tercemar limbah di perairan Bontang. Pengambilan sampel dilakukan menyusul keluhan nelayan setelah ratusan ikan mati mendadak pada Selasa (3/11/2026).
Kepala Bidang Perikanan DKP3, Syamsu Wardi, mengatakan setidaknya ada empat titik pengambilan sampel oleh tim, termasuk di perairan Selambai, Kelurahan Loktuan.
Proses pengambilan sampel tidak hanya dilakukan terhadap air. Tim juga mengambil sampel ikan yang mati untuk diperiksa di laboratorium. Proses penelitian membutuhkan waktu tiga hari hingga maksimal sepekan ke depan.
"Sudah kami ambil sampel. Mudah-mudahan besok bisa keluar. Atau sepekan ke depan. Kami tindak lanjuti semua keluhan nelayan," ucap Syamsu Wardi. (*)
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: