Sejarah Dialektis Pemikiran Islam Di Nusantara

Opini -
14 Februari 2020
Sejarah Dialektis Pemikiran Islam Di Nusantara Penulis : Rahmat Shadr. Pengasuh Halaqah Nurcholish Madjid Bontang

Fazrul Rahman melihat Indonesia merupakan wilayah islam yang berda diluar arus pemikiran intelektual (lihat- islam dan modernitas), namun dalam perjalan sejarah Indonesia  telah membuktikn bahwa wiliyah ini, telah berkembang sedemikian rupa dengan corak arus pembaharuan pemikiran.

Hal ini telah ditunjukan pada catatan  sejarah  dengan pergolakan klasik dan modernitas mengupayakan perumusan berdirinya bangsa ini.

Sejak kedatangan islam di indoensia,  dalam penelitian sejarah tidak terlepas dari peran  para ulama. Dalam hal ini Aceh, salah satuh tokoh pembaharu pemikiran yang terkenal Hamzah Fansuri.

Seorang intelektual yang membawa pemikiran wahdatul wujud Ibnu Arabi, kontribusinya telah membawa nusantara menjadi arus utama intelektual dimasanya.

Meski tidak terlepas dari pertentangannya dengan para pemikir lain dengan menolak wahdatul wujud.

Salah satu model intelektual yang digunakan oleh ulama terdahulu Meminjam istilah Azyumardi Azra, membentuk jaringan ( network) diantara mereka.

Jaringan tersebut dibentuk ketika mereka berda di Mekah dan Madina, pembentukan tersebut menginisiasi bahwa intelektual ulama kita terdahulu saling terkait dan bekerja sama dalam mengembangan pemikiran, meski ada perbedaan pemikiran diantara mereka.

Dari jaringan tersebut yang dibentuk di dua kota tersebut, pengembangan  pemikiran saling terhubung di Indonsia. Dari model inilah kata Kamaruzzaman Bustamin-Ahmad maka mulailah didirikan berbagai lembaga pendidikan, mungkin dalam hal ini pendidkan salah satunya ialah pesantren.

Pemikiran klasik di Nusantara dengan model diatas, bahwa ilmu pengetahuan dan agama, serta wilaya tertentu saling terkait, kita belajar dari mereka para pembaharuan klasik, bagaimana iman mengimplikasikan dalam ranah sosial.

Jadi sejarah intelektual Nusantara dalam masa klasik, dibentuk dengan para tokoh intelektual Ulama, wajar jika masyarakat Nusantara masih memegang tradisi intelektual dengan model sufustik, yang bermuara pada pembawaan Hamzah Fansuri dengan wahdatul wujud, dan para intelektual ulama yang lain.

Dengan fase klasik, seiring perkembanagan zaman, modernitas dalam sejarah intelektual bisa kita petakan dalam arus oraganisiasi, yang diawali dari gerakan modernis yaitu, Sarekat islam, Muhammadiyah, Masyumi dan Nahdatul Ulama.

Tentu dalam berdirinya organisasi ini, mempunyai dasar tersendiri, namun semangat dan subntansinya ialah bagaimana umat islam dan bangsa ini, saling bekerja sama, hal tersebut dalam dinamika masih bergejolak antara apakah bangsa ini menjadi Negara islam atau negera yang berasaskan pancasila.

Ide-ide pembaharu juga tidak terlepas dari peran organisasi tersebut, dengan melihat dinamika  masyarakat islam. Juga kita perlu melihat persambungan pemikiran lpada fase pasca kemerdekaan, tentu dengan model dan dinamika yang berbeda.

Kesinambungan antara pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan masih terjadi gejolak sosial politik, Indonesia masih menata menjadi bangsa yang berdaulat, pemikiran muslim masih vis-à-vis Negara, yang pada gilirannya menjadikan interaksi dalam bidang poitik khususnya dalam islam dan Negara.

Akhir tahun 1960-an, pertumbuhan pemikiran modern islam mengalami kemandekan, akibat pengarauh sosial politik yang terjadi sebelum 1960-an. Dengan pemerintah orbe baru, mengambil jarak dari islam tradisonalis.

Kendati demikian gejolak tersebut membawakan agin segar, dengan pembaharuan yang digagas oleh Cak Nur, yang melihat umat islam sendiri masih dalam fase naik tangga, dengan ide negera islam, dan penolakan terhadap modernitas.

Cak nur melihat bahwa organisasi politk umat islam, tidak akan mendapat dukungan jika masih berharap dengan jalur politik praktis, dengan politk kepartaian. Dengan analisis tersebut Cak Nur agar umat islam dapat membangun perdaban dan dapat berkembang hal tersebut Cak Nur menyuarakan (islam yes partai islam no).

Seruaan deislamisasi partai politik, dengan sekularisasi, disinilah pondasi perjalan pembaharuan pemikiran islam, yang warisannya sampai saat ini. Oleh Karen itu Greg Barton melihat bahwa peristiwa tersebut bukan kelompok modernis, namun ia memandang sebagai neomodernis.

Upaya pemikiran tersebut mensintetiskan antara tradisional dan pemikiran modern Barat. Tentu hal inipun menjadi perdebatan, seperti Ahmad Baso yang mengkritik Greg Barton dengan melihat Gusdur sebagai neomodernis, sedangkan Baso melihat sebagai post-tradisionalis.

Lebih jauh, gagasan ide pembaharuan pemikiran selain Cak Nur juga ada segenerasi seangjkatannya, mislanya Dawam Rahardjo, Ahmad Wahib, Johan Efendi, yang diistilahkan  mazhab Ciputat dan Yogja.

Meski demikian, peran juga dimainkan oleh kuntowijoyo, Gus Dur, dengan model gerakan yang berbeda. Mereka para pemikira pasca kemerdekaan sebagai pondasi bagi generasi 1990-an, hingga saat ini.

Oleh karena itu, gerakan pembaharuan pemikiran islam di Indonesia, tidaklah menarik jika tidak membaca buku-buku mereka. Sebagai upaya melihat kelanjutan intelektual Indonesia. Sejarah Nusantara dengan penuh dinamika, tetap saja tokoh pembaharau muncul dengan suara yang menentukan nasib bangsa.

TINGGALKAN KOMENTAR