Saat Laut Menguji Nyawa, Saharuddin Nelayan Asal Bontang Pulang dengan Keajaiban
Personil BPBD dan polisi saat berkunjung ke rumah Saharuddin. (Ist)
SELAMAT dari maut menjadi pengalaman genting di hidup Saharuddin (39), di tengah amukan badai hampir sepekan terombang di laut namun nasib baik masih berpihak ke dirinya.
M Rifky, Bontang
Nasriani, istri Saharuddin—nelayan yang selamat- menuturkan pengalaman suaminya selama di laut tanpa logistik cukup.
Sahar masih terbaring lemah di RSUD Taman Husada Bontang. Dehidrasi menguras tenaganya. Namun nyawanya selamat—sesuatu yang, beberapa hari lalu, nyaris terasa mustahil.
Istrinya, Nasriani, masih mengingat betul cerita yang disampaikan suaminya dengan suara lirih. Di tengah keterbatasan, Saharuddin ternyata sempat terseret arus hingga jauh ke perairan Manggar, Balikpapan, pada Rabu (1/4/2026) dini hari.
Informasi itu ia dapat setelah bertemu nelayan lain di laut.
“Dia sempat tanya ke nelayan udang. Kaget juga waktu tahu sudah sampai Balikpapan,” ujar Nasriani.
Keterkejutan itu bercampur cemas. Jarak yang begitu jauh dari Bontang bukan perkara sepele, apalagi dengan kondisi kapal ketinting yang tak sepenuhnya prima. Baling-balingnya sempat rusak. Perbaikan darurat dilakukan seadanya di tengah laut.
Sejak saat itu, perjalanan pulang berubah menjadi perjuangan pelan dan panjang. Mesin kecil itu terus dipaksa bertahan, mengantar Saharuddin kembali ke arah Bontang.
Namun persoalan tak berhenti di situ.
Bekal makanan dan minuman telah habis sejak tiga hari sebelumnya. Rasa lapar tak lagi bisa ditawar. Dalam kondisi terdesak, Saharuddin hanya bertahan dengan air tadah hujan—dan sesekali, air laut.
Hari-hari berikutnya menjadi semakin berat. Halusinasi mulai datang. Pikiran berkelana, antara nyata dan bayangan.
Tapi satu hal yang tetap ia pegang: keinginan untuk pulang.
Keinginan itu, kata Nasriani, yang membuat suaminya terus melawan kondisi tubuh yang semakin melemah.
Di darat, doa tak pernah putus. Hampir sepekan Nasriani menunggu dengan cemas. Setiap kabar yang datang selalu diharapkan membawa kepastian. Hingga akhirnya, harapan itu benar-benar menjadi nyata.
Kamis (2/4), Saharuddin tiba di dermaga Kampung Makassar RT 19, Kelurahan Berbas Pantai. Ia datang sendiri, dengan kapal yang sama—kapal yang membawanya pergi dan nyaris tak kembali.
“Kami bersyukur sekali dia selamat. Sekarang fokus dulu pemulihan,” kata Nasriani.
Sebelumnya, Lurah Berbas Pantai, Hadi, membenarkan bahwa Saharuddin kembali tanpa bantuan evakuasi. Ia mengemudikan sendiri kapal ketintingnya hingga bersandar di pelabuhan.
“Dia pulang sendiri ke RT 19 Kampung Makassar. Alhamdulillah selamat,” ujarnya. (*)
Ikuti berita-berita terkini dari klikkaltim.com dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: