Krisis Ekologi Dan Dilema Manusia Modern

Korporasi -
14 Januari 2020
Krisis Ekologi Dan Dilema Manusia Modern Penulis: Rahmat Shadr. Pengasuh Studi Kajian Pemikiran: Halaqhlah Nurcholish Madjid Kota Bontang

KLIKKALTIM.com -- Masih ada kah nurani kita sebagai manusia dalam memandang kosmos ini bagaian dari kehidupan kita,masih kah ada harapan bagi generasi untuk menikmati alam ini untuk megantarkan kita padamenuhi kebutuhan lahiriah dan juga batiniahnya. Berbagai problem yang menghapiri kita menjadikan fakta sebagai krisis kemanusiaan, era abad 21 merupakan akibat  dari peradaban modern yang pada akhirnya melahirkan reviolusi digital ,yang mengakibatkan krisis komplek dan multidmensonal.

Termaksud krisis ekologi, kekerasan, dehumanisasi, moral dan kesenjangan sosisal. Yang saling terkait satu dengan yang lain, salah satu akibat dari era informasi dan digitalisasi yang memindahkan ruang public ke media sosial, menjadikan kehidupan domestic dan personal. Bukan hal baru ketika kita melihat fenomena yang terjadi saat ini, karena keterhubungan sejarah peradaban modern membentuk manusia abad ini.

Capra mengungkapkan: krisis global yang terjadi dapat di-lacak dari cara pandangan manusia modern, dari pandangan dunia yang diterapkan selama ini adalah pandangan dunia mekanistik-linear Cartesian dan Newtonian.

di-lain sisi mereka berdua berhasil mengembangkan sains dan teknologi, namun di sisi lain mereduksi kompleksitas dan kekayaan manusia itu sendiri, dari pandangan tersebut yang mekanistik terhadap alam telah melahirkan kerusakan global, air, tanah dan mengancam kehidupan manusia. penekanan yang terlalu berlebihan mengenai eksperimental dan rasionalistik dengan dualitas pemikirannya menimbulakn sikap anti-ekologi.

Paradigma Cartesian dan Newtonian memperlakukan manusia dan sistem sosial seperti mesin besar yang di-atur menurut hukum-hukum objektif, mekanis, deterministic, linear. Pandangan ini mengakibtakan alam sebagai bahan eksperimental murni, tanpa mengaitkan dengan manusia, dan dampak dari eksperimen terhadap kehidupan umat manusia. persoalan ini merupakan hegemoni pemikiran Cartesian dan Newtonian  yang duallistik, manusia sebagai pusat dari kebenaran alam semesta, yang memunculkan paradigma antroposentris.

Jadi manusia dan alam tidak tarkait dengan kehidupan mereka, alam hanya sebagai bahan eksperimental murni yang bisa di-porakporandakan, menggali sumber alam tanpa berpikir dampak yang akan terjadi. Dulisik  ini, memisahkan total dengan eksistensi manusia, bukan hanya itu, ke-imanan menjadi individualistik, yang tidak berkaitan dengan sosial, alam dan lingkup kehidupan manusia, ini-lah akibat dari ke-iman dalam antorposentris, bahwa manuasi, alam dan tuhan, itu tidak terkait sama sekali, sebab ketiga hal tersebut memanglah individu atau ekslufis pada manusia.

Dampak  dari pemikiran mekanistik antroposentris meniadakan sisi spiritual manusia, hannya memandang manusia dan alam sebagai mesin yang mekanistik, alam menjadi sarana perang untuk memperkaya diri, menguras sumber alam, tanpa ada nurani manusia, tidak lagi memikirkan dampak yang terjadi, misalnya lapisan ozone yang semakin menipis akibat pembakaran hutan, pabrik-pabrik berdiri dengan kokohnya ditambah cerobong asap yang menipiskan lapoisan ozone yang mengakibatkan kekeringan.

Gedung dengan pencakar langitnya, menguras air di-bawah, hingga masyarakat di-sekitarnya kekurangan air, ekologi yang tidak sahat lagi mengakibatkan penyakit yang di-derita masyarakat, hutan yang subur habis di-babat, digunakan untuk memenuhi hasrat mereka. Pohon yang rindang tumbuh dengan suburnya untuk menghidupi manusia telah ditumbangankan oleh hasrat pemikiran dualistic, mekanistik dan linear.

Jika manusia tidak menyadari akan cara pandang mereka yang benar-benar telah merusak kosmos yang berdapak kerusakan ekologi yang sangat mengerikan, maka manusia dan alam ini akan saling bertentngan, alam akan menujunjukan ke-murkaannya, menjadi sebuah bencana alam, dan manusia akan menerima kemurkaan akibat tindakannya sendiri.

Sebagaimana telah kami jelaskan di-atas bahwa krisis pandangan ontologis dan kosmologis, manusia tidak memandang alam sebagai kesatuan dirinya yang saling membutuhkan,artinya manusia dan alam merupakan kesatuan ontologis dari segi ciptaan, manusia yang berkeyakinan akan adanya ke-gaiban (tuhan) merupakan pandangan ontologisnya dalam memaknai alam ini (tauhid), dengan kosmologisnya, manusia sebagai penghuni alam ini, mempunyai relasi kebutuhan akan alam semesta, sebagai wadah bagai mereka untuk memenuhi kebutuhannya, ekonomi, budaya, politik, ibadah, dan bersosial.

Sebagai tujuan ke-manusiaan dan jalan  pertanggung jawaban untuk kembali pada ilahi, kosmologis mengaitkan antara alam, manusia dan tuhan.  manusia berperan aktif untuk mengaktualkan potensi dirinya sebagai mahluk yang paling sempurna, dengan membawa manifestasi ilahi, dari segi perbuatan, sifat dan intelektualnya, artinya bahwa manusia yang mengaitkan alam dan tuhan, dengan tindakannya.

Maka tentu manusia berperan aktif dalam  perbuatannya,baik itu sesama manusia dan alam, dengan nama-nama tuhan,ke-adilan,maha bijak,pengasih dan sifat asmaul husnah,bisa di-transformasikan dalam relasi sosial manusia dan alam,sebagaimana manusia di-ciptakan dan di-ajari nama-nama benda. Dalam doktirn sufisme,manusia sebagai citra tuhan, untuk menjadi-kan alam ini hidup,dan citra tersebut (manusia) merupakan bentuk sempurna dari tuhan,karena manusia-lah sebagai mahluk yang bisa memanifestasikan sifat-sifat dan perbuatannya,dengan demikian alam ini,memang-lah di-persembahakan untuk manusia,sebagai citra sempurna dari tuhan.

Manusia sendri sebagai batin dari alam dan kehidupan alam semesta tergantung bagaimana manusia berperilaku dalam relasinya dengan alam semesta.

Jika manusia hanya memandangan alam sebagai pandangan makanistik dan linera,maka alam alan mengikutinya, menjadikan dampak yang negative dari manusia, namun jika manusia, berpandangan ontologis dan kosmologis, maka manusia dan alam menciptakan  haromonisasi sebagai tujuan penciptaan.

TINGGALKAN KOMENTAR