Menyoal Pembelajaran Jarak Jauh yang Bikin Emak-Emak 'Ngedumel'

Bontang - Asriani
31 Juli 2020
Menyoal Pembelajaran Jarak Jauh yang Bikin Emak-Emak  'Ngedumel' Ilustrasi PJJ pelajar selama pandemi Covid-19/Int

KLIKKALTIM.COM -- Sur-nama rekaan- duduk melantai di ruang tamu yang jadi satu dengan ruang keluarganya.

Ia ditemani putrinya. Yang usianya baru 9 tahun, pelajar di SDN di Bontang Barat. 

Sesekali suaranya terdengar meninggi. Kala coretan pensil putrinya salah meniru 'karya' ibunya di lembar kerja siswa. 

"Salah itu, bukan begitu," geram sang ibu. 

Sang anak meneruskan tulisanya, setelah memperbaiki kesalahan tulis. Sementara Sur kembali menatap layar ponsel. Mencari jawaban dari soal-soal di lembar kerja putrinya. 

Tetiba, suara lantang menyeru. "Kopi satu bu," ujar seseorang Sur berdiri dan membuat pesanan orang tersebut. 

Usai menyeduh kopi pelanggan, Sur kembali ke posisinya. Melihat kerja putrinya. Memastikan tak ada yang keliru dari hasil menjiplak itu. 

Membimbing putrinya di tengah kesibukan bukan hal mudah. Ia harus menyempatkan belajar bersamaan dengan melayani pembeli. 

Ibu lainnya, Lia-nama rekaan- juga bernasib serupa. Emosinya naik turun. Ia mengaduh sulit sekali membimbing anaknya selama belajar jarak jauh.

Kesibukannya sebagai wiraswasta membuatnya kelimpungan. Putranya harus didampingi saat belajar. Padahal, pesanan pelanggan harus diselesaikan. 

"Yah mending kita yang kerjakan, ketimbang anak-anak karena lama. Padahal kita banyak kerjaan," beber Lia. 

Lembar kerja siswa selalu datang setiap hari. Pelajar wajib mengisi soal-soal halaman per halaman. 

Bagi orang tua murid yang hanya mengeyam pendidikan menegah pertama (SMP) pasti ngedumel . "Susahnya ini pelajaran anak kuliahan," katanya mengeluh. 

Saya mencoba menengok soal-soal pelajar Sekolah Dasar Kelas III itu. Salah satu soalnya mewajibkan mereka menulis uraian wawancara antara murid satu sama lain. 

Selama pembelajaran jarak jauh, tentu hal ini sukar dilakukan. Karena mengisi jawaban itu harus dilakoni di sekolah itu. Tetapi, mereka dipaksa merekayasa jawaban.

"Loh soal-soalnya kan model pembelajaran tatap muka, tapi kita diharuskan mengisi jawaban padahal di rumah. Yah repot," keluh orang tua lainnya. 

Bagi kelompok masyarakat mampu bisa membayar jasa guru privat. Tetapi, hal itu mustahil dilakukan Sur dan Lia. 

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mengatakan, metode pengajaran memang harus inovatif. Harus banyak 'permainan' agar murid semangat belajar. 

Ia pun telah meminta agar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melakukan terobosan. "Harus inovatif, seperti ada animasi-animasinya. Contohnya 1 ayam tambah 1 ayam, jadi tidak monoton," ungkap Neni. 

Menurut Neni, layanan Simpel JAGO nanti akan menyediakan siaran televisi edukasi. Para guru bakal menjadi mentor melalui layar kaca. 

Guru-guru itu sudah dibekali pengetahuan agar mampu membawakan materi ajar secara menarik via jarak jauh (Televisi). 

*Nama narasumber sengaja disamarkan atas permintaan sang narasumber.

 

TINGGALKAN KOMENTAR