•   05 May 2026 -

PT. Borneo Grafika Pariwara

Jl. Kapt Pierre Tendean, RT 02 No 9, Kelurahan Bontang Baru
Kecamatan Bontang, Kota Bontang, Kaltim - 75311

Setahun Covid-19 di Indonesia, Mungkin Kita Lelah tapi Tak Pernah Menyerah

Nasional - Redaksi
01 Maret 2021
 
Setahun Covid-19 di Indonesia, Mungkin Kita Lelah tapi Tak Pernah Menyerah Pemakaman pasien yang meninggal karena Covid-19.

KLIKKALTIM.com -- Malam semakin larut, mungkin sebagian orang mungkin sedang tertidur lelap di rumah. Tetapi tidak bagi perawat dan dokter di ruang ICU yang masih berjibaku membantu pasien Covid-19 tengah berjuang antara hidup dan mati.

Dengan memakai alat pelindung diri (APD) yang lengkap, mereka melakukan berbagai upaya agar pasien Covid-19 bisa selamat.

Perasaan bercampur aduk malam itu. Napas pasien terus menipis. Selang oksigen sudah dimasukkan ke dalam mulut. Para perawat dan dokter berdoa, berharap masa kritis bisa dilalui sang pasien.

Jantung terus berdebar. Semua petugas menunggu keajaiban. Selang beberapa waktu, pasien Covid-19 itu berhasil melewati masa kritis. Kondisinya berangsur tenang.

Bukan berarti semua telah selesai. Namun mereka tetap bersyukur. Doa dan harapan para tim tenaga kesehatan (nakes) malam itu dikabulkan Tuhan. Mereka diberi kesempatan untuk menyelamatkan satu nyawa dari ganasnya virus Corona Covid-19.

"Suasana di dalam ruang ICU teringat terus di otak saya walau sedang libur panjang sekali pun," ujar Maftukhin, seorang perawat RSUD Dr. R. Koesma, Tuban, Jawa Timur, bercerita kepada merdeka.com.

Semenjak Covid-19 melanda Indonesia sejak 2 Maret 2020, setiap hari selalu bertambah angka kasus positif. Mulai dari puluhan kasus, lalu menjadi sejuta kasus.

Sebagian pasien Covid-19 mengalami kondisi berat dan kritis. Para pasien dalam kondisi ini tentunya harus segera mendapat pertolongan khusus.
Tingginya angka pasien positif Covid-19 di Indonesia tentu menjadi masalah tersendiri. Bahkan, kebutuhan atas ruang ICU juga semakin penuh.

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) bahkan mengungkapkan, ketersediaan tempat tidur khususnya ruang ICU rumah sakit di Pulau Jawa masih penuh merawat pasien positif Covid-19.

Ketersediaan ruang ICU untuk pasien Covid-19 dengan gejala sedang hingga kritis di beberapa rumah sakit di Jawa masih di atas 60 persen per Februari 2021 ini. Walaupun, harus diakui jumlah pasien positif jumlahnya telah menurun tiap harinya.

Sudah hampir setahun pandemi ini menghantui, rasa takut itu belum juga hilang. Sebagai garda terdepan pejuang Covid-19, para nakes ini menjadi kelompok paling rentan tertular.

Sulit sekali rasanya untuk menghindar. Mereka hanya bisa menjaga dan tidak menularkan kepada orang lain maupun keluarga.

Sudah banyak para perawat di tempat Maftukhin kerja tertular. Bukan hanya perawat, ada juga petugas administrasi rumah sakit juga tertular. Hal ini tentu diharapkan tidak terjadi lagi di kemudian hari. Para pekerja di rumah sakit kini tentu semakin lebih waspada.

Para petugas ICU memang harus benar-benar dalam keadaan fit. Mereka tidak boleh dalam keadaan drop. Bila ada keluhan sakit meski ringan, itu harus segera dilaporkan ke koordinator, kemudian diminta diganti agar perawat tersebut tidak mudah tertular.

Beruntung Maftukhin tidak pernah tertular Covid-19 selama bertugas. Tiap hasil tes usap selalu menunjukkan hasil negatif.

Meski begitu, perasaan gugup memang masih selalu menggelayuti. Maftukhin masih menemukan ada beberapa teman sejawatnya pingsan sebelum masuk ruang ICU.

Kondisi ini bukan untuk ditertawakan. Tentu menjadi gambaran bahwa nakes juga manusia. Mereka tak luput dari rasa takut.

"Pada Desember itu masih ada yang suka pingsan. Takut. Mereka pingsan sebelum masuk ruang ICU. Jadi malah perawatnya masuk UGD (unit gawat darurat)," kata Maftukhin mengenang kejadian itu.

Bekerja di ruang ICU memang rumit. Para nakes tidak bisa sembarangan. Ada banyak tahapan harus dilalui apalagi ketika menangani pasien kritis yang semua harus dikerjakan cepat tanggap dan tepat tidak boleh ada kesalahan sedikit pun. Kerja sama antara dokter dan perawat menjadi salah satu kunci keberhasilan.
Hari-hari Dokter Erni Juwita Nelwan seperti tak kenal libur. Pandemi Covid-19 ini telah memberikan banyak pelajaran penting, terutama bagi dirinya.

Setiap hari Erni bersama para koleganya harus selalu siap lahir dan batin sebelum bertemu dengan pasien.

Menjalani profesi dokter spesialis penyakit dalam, tentu sangat rentan bagi dirinya. Semua harus dipersiapkan baik-baik agar terhindar penularan. Sebab, tidak ada yang tahu kapan virus tersebut merasuk ke dalam badan.

Kondisi itu pun membuat Dokter Erni dan rekan seprofesinya diharuskan siap lahir batin menjalani pekerjaan.

"Setiap hari kita bekerja harus diawali bismillah. Menyiapkan segala upaya agar tidak tertular," ungkap Dokter Erni kepada merdeka.com.

Lelah mungkin yang dirasakan Dokter Erni selama bertugas di masa pandemi. Namun, jalan berisiko ini sudah menjadi pilihan. Dia selalu mengingatkan dirinya agar tidak mudah menyerah.

Covid-19 bukan satu-satunya penyakit ditakutkan. Kalau pun itu hilang, masih banyak virus lain mengancam keselamatan para tenaga kesehatan. Salah satunya penyakit tuberkulosis (TBC) yang sampai kini terus menghantui.

"Ini adalah profesi saya, semua yang bekerja di bidang kesehatan melihat ini sebagai satu tantangan," ujar dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini.




TINGGALKAN KOMENTAR