Direktur RSUD Taman Husada; Tolong Bantu Kami dengan Tidak Mem-bully

Kaltim -
25 Maret 2020
Direktur RSUD Taman Husada; Tolong Bantu Kami dengan Tidak Mem-bully Foto: Internet

"Tolonglah jangan bully kami. Saya baca di WA (WhatsaApp), katanya itu memang tugas kami, udah digaji lagi, yah sudah kerja," curhat dr Gusti. 

dr Gusti Made Suardika adalah Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Taman Husada Bontang. Rumah sakit pelat merah itu mengambil langkah ekstrem. Sehari pasca pengumuman dua pasien positif corona, dr Gusti mengisolasi 25 perawat dan 5 dokter yang sempat bersentuhan langsung dengan pasien positif tersebut. Langkah yang ekstrem di tengah kebutuhan tenaga perawat dan dokter yang mendesak. 

Dia menegaskan, para tenaga medis saat ini tak lagi memikirkan soal pendapatan mereka. Ini benar-benar soal kemanusiaan. Panggilan jiwa petugas medis untuk mengobati, membantu dan seketika hadir manakala melihat ada pasien membutuhkan. Walaupun petugas medis itu sendiri harus berkorban. 

Dalam kasus COVID-19, ruang gerak mereka ikut terenggut, karena harus tinggal di rumah sakit, tak bisa bersama keluarga atau orang-orang terkasih. Juga bertaruh nyawa karena berpotensi ikut tertular virus corona dalam menjalankan tugasnya. Saat ini sudah ada beberapa petugas medis  ikut tertular COVID-19 ketika menjalankan tugasnya. Bahkan ada yang gugur sebelum misi kemanusiaan ini rampung.

"Coba yang bully kami itu, mau tidak gantikan menjalani tugas ini? Saya rasa mereka sendiri pasti ketakutan," kata dr Gusti.

Bayangkan ini, kata dr Gusti, RSUD Taman Husada, tempat para pasien dengan corona ditampung, alat pelindung diri (APD) sangat kurang. Jadi, beberapa tenaga perawat dan dokter bekerja menangani pasien yang dalam pengawasan atau yang sudah terpapar tanpa alat pelindung diri. 

"Mereka yang berjibaku melawan COVID-19 tanpa APD memadai tak ubahnya prajurit yang melakukan misi bunuh diri. Karena sifat penyebaran COVID-19 cukup gila: melalui sentuhan dan udara," kata dr Gusti.  

Kalaupun APD sudah ada, tidak lantas semuanya berjalan dengan baik. Ketika tubuh dibungkus APD berjam-jam; rasa sesak, panas tak nyaman dirasakan. Mau bergerak, semisal makan dan minum sulit. Bahkan mungkin itu enggan dilakukan bila APD masih di tubuh karena takut ada virus menempel. Jadi, kondisi dengan atau tanpa APD menjadi serba salah dalam situasi sekarang. 

Kondisi psikologis petugas medis pun perlu diketahui, karena mereka pun manusia biasa. Tentu ada kekhawatiran menggelayut ketika menyusuri ruang isolasi yang dingin dan hening. Takut terpapar virus, takut menularkan virus dan lain sebagainya. 

"Kami paham dengan sumpah profesi dan kewajiban kami sebagai tenaga medis. Ini adalah misi kemanusiaan. Dalam situasi saat ini, kami adalah garda terdepan penyelamat. Tapi, kami membutuhkan bantuan dari semua kalangan. Cukup tidak mem-bully," katanya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR