20 Februari 2020

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Gaya Politik Zig Zag Zulkifli Hasan dan Arah Koalisi PAN


Gaya Politik Zig Zag Zulkifli Hasan dan Arah Koalisi PAN
Zulkifli Hasan terpilih jadi Ketum PAN di Kongres ke V

KLIKKALTIM.com -- Arah politik PAN usai Zulkifli Hasan kembali jadi ketua umum menarik dinanti. Politik zig zag yang dimainkan Zulkifli selama ini membuat semakin membetot perhatian publik.

Usai memenangi Kongres V PAN, Zulkifli sempat menyinggung posisi politik partainya. Dia memberikan sinyal tak berminat menjadi oposisi. Zul, tengah menghitung untung rugi dalam memutuskan posisi politiknya.

"Kalau oposisi itu sudah diambil taglinenya oleh PKS, kalau kita ikut masuk ke situ isu oposisi yang sudah diambil oleh itu teman kita partai itu akan sangat merugikan kita, kalau kita bergerak ke kanan ke kanan sekali, kita kalah, kalah kita," ujar Zulkifli saat penutupan Kongres V PAN di Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (12/2).

Wakil Ketua MPR mengakui, posisi politik penting untuk menghadapi Pemilu 2024. Apalagi dalam waktu dekat partai menghadapi Pilkada serentak 2020. Karena itu, Zulkifli berpandangan PAN tidak bisa sendirian menghadapi Pilkada dan Pilpres karena sistem multi partai.

"Oleh karena itu, kita mesti menentukan positioning kita, kemudian dengan siapa kita mesti berteman paling tidak kita tidak bermusuhan dengan banyak orang," tegas Zulkifli.

Di kesempatan terpisah, Zulkifli meluruskan, pernyataannya di penutupan kongres itu bukan berarti akan bergabung dengan pemerintah Jokowi-Ma'ruf.Tapi dia menegaskan, PAN akan menjadi mitra kritis pemerintah.

"Saya bilang saya enggak dukung pak Jokowi, ya enggak mungkin minta masuk ke sana biarkan saja kita seperti ini. Kita akan jadi mitra yang anu, yang kritis bisa menjadi memberikan solusi terhadap persoalan bangsa yang kita hadapi," kata Zulkifli.

Pada periode pertamanya memimpin PAN, Zulkifli langsung membawa PAN balik arah meninggalkan Prabowo menuju pemenang Pemilu 2014 Jokowi-JK. Setelah gabung pemerintah beberapa tahun, kemudian Zulkifli memutuskan membawa PAN untuk kembali bersama Prabowo di Pemilu 2019.

Bagaimana Tanggapan Oposisi?

Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menghormati apapun keputusan Zulkifli nantinya. Akan tetap di luar pemerintah atau kembali bergabung dengan Jokowi. PKS menegaskan posisinya kukuh sebagai oposisi, agar pemerintahan Presiden Jokowi dapat bekerja dengan baik.

Namun, Mardani menilai, jika PAN bergabung dengan pemerintah bakal penuh sesak. "Partai justru perlu ruang gerak yang luas. Ruang #KamiOposisi justru luas," jelas Mardani melalui pesan singkat, Kamis (13/2).

PDIP Serahkan ke Jokowi

Sementara itu, Ketua DPP PDI Perjuangan Bambang Wuryanto mendukung jika koalisi pemerintah bertambah. Namun, Bambang mengatakan, tidak bisa mempengaruhi keputusan partai lain untuk ikut mendukung pemerintah.

"Kalau saya, ya makin banyak yang mendukung ya makin baik. Soal partai itu ya keputusan DPP Partai donk," kata Bambang kepada wartawan, Kamis (13/2).

Bambang menyebut, belum ada pembahasan apakah ada kans PAN masuk koalisi. Presiden Joko Widodo lah yang menentukan apakah koalisi anggota bertambah atau tidak.

"Yang memberi ukuran bukan saya. Yang bisa memberi ukuran untuk hal tersebut ya Pak Presiden," sebutnya.

Pengamat Sarankan Oposisi

Sementara itu, Guru Besar UI Profesor Maswadi Rauf menyarankan, PAN berada di garis oposisi. Dengan demikian, demokrasi di RI tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Dia malah khawatir, apabila semua parpol mendukung Jokowi. Hal itu sebagai tanda matinya demokrasi di Indonesia.

"Dulu yang menyelamatkan demokrasi kita ada Megawati karena tidak punya hubungan baik dengan SBY. Itu menyelamatkan demokrasi kita, sehingga ada oposisi. Tapi kalau semua berada dalam satu kubu, habis demokrasi kita," kata Maswadi.

Dia mengingatkan, oposisi bukan melulu harus menolak apa yang dilakukan oleh pemerintah. Tapi dianggap lebih mudah mengatakan tidak daripada parpol yang berada di koalisi pemerintahan.

Selain itu, nilai jual PAN, juga dianggap lebih mahal. Ketimbang harus bergabung dengan pemerintah.

"Jadi oposisi pun nilainya mahal betul, kalau bergabung koalisi pemerintah itu murahan, anak kecil pun bisa, mau, itu nilainya tidak mahal," tutup dia.

 

Sumber : merdeka.com

Reporter :     Editor : Liah Mulyono



Comments

comments


Komentar: 0