19 November 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Lagi Bocah Meninggal di Lubang Tambang, PKB Kaltim: Ini Pidana


Lagi Bocah Meninggal di Lubang Tambang, PKB Kaltim: Ini Pidana
Ketua Fraksi PKB Kaltim Syafrudin

KLIKKALTIM.COM - Lubang tambang di Samarinda kembali memakan korban. Seorang bocah berusia 10 tahun bernama Ahmad Setiawan (10), warga Jalan P Suryanata, Gang H Saka, RT 16, Kelurahan Bukit Pinang, Kecamatan Samarinda Ulu meninggal setelah tenggelam di genangan bekas galian.

Murid sekolah dasar (SD) yang baru saja naik ke kelas IV itu ditemukan tak bernyawa di salah satu lubang tambang yang berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Diketahui, lubang tambang yang mirip danau itu tak dipasang papan peringatan atau pagar penutup di sekelilingnya.

Anggota DPRD Kaltim Syafruddin mendesak Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kaltim mencabut izin perusahaan yang tak mengindahkan keselamatan. Dalam waktu dekat ini DPRD Kaltim akan memanggil ESDM dan membahas lemahnya pengawasan melekat yang dilakukan ESDM Kaltim. 

“Permintaan kami satu. Tutup perusahaan yang tak memperhatikan keselamatan,” kata politisi PKB tersebut. 

Ketua Fraksi PKB Kaltim itu mengungkapkan, tenggelamnya bocah di lubang tambang itu menggenapkan jumlah korban tewas menjadi 35 orang. Sebagai Langkah awal, kata pria yang yang akrab disapa Udin itu, dia akan mendorong dibentuknya Panitia Khusus (Pansus) Lubang Tambang. Jadi, tidak ada alasan bagi pihaknya untuk membiarkan permasalahan tersebut. 

Dia menambahkan, pencabutan izin mengarah kepada PT Insani Bara Perkasa (IBP) yang diduga melakukan pembiaran terhadap bekas galiannya. 

“Informasi ini kami dapatkan dari LSM yang concern dengan masalah pertambangan dan saat ini melakukan pendampingan terhadap keluarga korban tambang yang meninggal,” kata dia. 

Dia menambahkan, jika terbukti ada unsur pidana maka DPRD Kaltim juga mendorong proses hukum. Sebab, ini menyangkut nyawa seseorang. Ketika perusahaan tidak menutup bekas galian mereka, dan lubangnya dibiarkan pagar dan tanda peringatan, maka patut diduga ada unsur kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa. 

"Ini mengarah ke pidana," katanya. (*)

Reporter : Yoyok Sudarma    Editor : Marki



Comments

comments


Komentar: 0