25 Juni 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Duel Pembunuh Raksasa Eropa


Duel Pembunuh Raksasa Eropa
Foto: Ilustrasi

KLIKKALTIM.COM - Liverpool dan Totenham Hotspur bukanlah tim yang diharapkan akan bermain di final Liga Champion Minggu dini hari nanti. Juventus, meski di kancah Eropa kurang mengkilap ketimbang Liverpool, tetapi dengan hadirnya Ronaldo di sana, mereka lebih diinginkan. Atau mungkin Barcelona, dengan deretan rekor anyar yang ditorehkan sang monster, Lionel Messi. 

Lantas, apa yang membuat Liverpool dan Totenham bisa berada di malam perebutan gelar paling bergengsi di ranah Eropa. Dua tim asal Inggris ini sama-sama bisa belajar dengan cepat. Ingat bagaimana mereka merana di leg 1 semifinal. Totenham dipermalukan oleh Ajax di kandang sendiri dengan skor 0-1. Lalu Liverpool harus berjuang dengan minus tiga gol. 

Andai Dembele bisa mengonversi peluang matangnya di pengujung babak kedua menjadi gol, mungkin ceritanya akan berbeda. Messi bahkan menyebut, akan lebih mudah bagi timnya bila unggul dengan agregat 4 gol. Barcelona rupanya masih trauma dengan AS Roma yang menyingkirkan mereka, musim lalu, dengan skor 3-0, setelah terlebih dahulu unggul 4-1. 

Usai laga kandang tak mengenakkan, Pochettino langsung mengakui bahwa dirinya adalah biang kekalahan Totenham. Dia tak punya banyak pilihan untuk menurunkan pemain yang tepat. Meski begitu, ada sedikit asa yang dia dapatkan di babak kedua. 

“Kami menahan gempuran luar biasa di babak pertama. Tapi, menjadi lebih baik di babak kedua. Saya melihat ada perbedaan yang akan berdampak besar di leg kedua nanti,” kata manajaer berkebangsaan Argentina itu. 

Pochettino melihat celah besar bagi timnya untuk bangkit di leg kedua. Kesalahan taktik yang dilakukan olehnya memberi peluang lain bagi dirinya. Dia bisa membaca dengan jelas gaya permainan yang dibangun oleh Erik ten Hag. Ajax Amsterdam adalah pabrik pemain sepakbola dunia. Klub asal Belanda itu merupakan gudang pemain muda berbakat. Di tangan Erik, para penggawa belia Ajax menjadi pembunuh para raksasa di Liga Champion. 

“Di babak kedua kami bermain lebih direct. Memukul langsung mereka (Ajax). Ada perubahan yang bagus di sana,” kata Pochettino, menyinggung strategi yang dia mainkan. 

Di sebelahnya, Liverpool juga datang dengan kendala yang sama. Kalah di leg awal semifinal, Tim asal kota Liverpool itu membalikkan agregat dengan cara yang luar biasa, melawan tim yang juga luar biasa. Barcelona. Liverpool dipaksa merana di leg pertama. Defisit tiga gol bukan angka yang bagus. Namun, Klopp membalikkan kedudukan dengan skuat ala kadarnya. 

Nah, malam nanti kedua tim akan saling bersua. Sama-sama melalui jalan terjal untuk sampai ke puncak. Juga sama-sama tim yang tak diharapkan berada di partai pamungkas. Liverpool, musim ini memperbaiki salah satu lini terlemah mereka, penjaga gawang. Tahun lalu, ketika jumpa Real Madrid di final ajang yang sama, Madrid kalah dengan skor telak karena blunder fatal penjaga gawang mereka. Sementara, Totenham adalah satu-satunya tim yang tak melakukan belanja pemain, tapi justru menunjukkan prestasi mengagumkan. 

Secara mental, histori dan rekor pertemuan, Liverpool jelas diunggulkan. Di liga domestik, dua pertemuan keduanya berakhir dengan kekalahan Totenham. Baik kandang maupun tandang. Tapi, hasil di liga domestik tak bisa dijadikan rujukan Liga Champion. Tengok bagaimana mengenaskannya nasib Manchester City yang disingkirkan Totenham di perempat final. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat bagi Totenham, laga dini hari nanti tetap menarik untuk disimak. (*)

Reporter : Ikram al Qodrie     Editor : Marki



Comments

comments


Komentar: 0