22 Mei 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Biadab, Ayah dan Kakak di Samarinda Cabuli Bocah Kelas 5 SD


Biadab, Ayah dan Kakak di Samarinda Cabuli Bocah Kelas 5 SD
Salah satu pelaku, MA diamankan di Polresta Samarinda.

KLIKKALTIM.COM - Bocah kelas 5 SD di Samarinda, Kalimantan Timur berinisial DS (11) menjadi korban pencabulan oleh kakak dan ayah kandungnya. Kejadian itu terbongkar setelah sang ibu berinisial LS (46) mendapat aduan dari tetangga sekitar rumahnya yang terletak di kawasan Selili, Samarinda.

Tak terima dengan perlakuan yang dilakukan oleh suami dan anaknya, LS melaporkan dugaan pemerkosaan itu ke Mapolsekta Samarinda. Kapolsekta Samarinda Kompol Nur Kholis mengatakan, pihaknya sudah mengamankan satu tersangka berinisial MA (16) yang merupakan kakak kandung korban.

Saat ini polisi masih mengejar satu tersangka lain yaitu MJ (60) yang merupakan ayah kandung korban. "Satu tersangka sudah diamankan dan pelaku lain masih dalam pengejaran," katanya, Kamis (28/2/2019).

"Pengakuan dari terinspirasi dari film porno yang dia tonton di warnet. Jadi setiap habis nonton film porno di warnet, begitu pulang langsung dilampiaskan ke adik kandungnya," ujar Kholis.

Dari pengakuan korban, perbuatan bejat itu pertama kali dilakukan ayah kandungnya saat rumah sedang sepi. Tiga tahun lamanya, itu akhirnya terbongkar, dan sang ibu mengaku sama sekali tidak curiga. "Jadi enggak digilir. Selain bapaknya mungkin gantian (kakaknya)," ungkap Kholis.

Pakaian dalam korban dan visum medis sementara ini menjadi barang bukti polisi untuk menjerat MAN. Kendati demikian, polisi tetap berkoordinasi bersama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

"Kita jerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak. Kita harap warga melakukan pengawasan ketat melekat terhadap anak-anaknya. Jadi yang menjadi pelaku bukan hanya orang jauh, tapi orang-orang dekat. Bapak kandung, kakak kandung. Seperti yang kejadian di Lampung, enggak tahunya di kelurahan saya, di Selili, terjadi juga," demikian Kholis.

Ibu korban bercerita, dia dengan MJ telah bercerai, namun masih tinggal satu rumah. Kesehariannya, ibu korban bekerja sebagai pembantu memasak katering, dan baru pulang sebulan sekali. Sedangkan MJ adalah penjaga makam.

MA mengaku telah melakukan tindakan tersebut sejak korban duduk di kelas 3 SD. MA melakukan hal tersebut karena mengetahui sang ayah juga melakukan hal yang sama kepada korban. MA masih melakukan tindakan serupa kepada korban, Minggu (24/2/2019) lalu.

Korban tidak berani menceritakan hal itu pada ibunya lantaran takut oleh ayah dan kakak kandungnya. "Kejadian ini terjadi sejak korban duduk di kelas 3 SD. Korban tidak berani mengadu hingga akhirnya ibu korban mengetahui kejadian itu," ujar Nur. (*)

Reporter : Inara Dafina     Editor : Marki



Comments

comments


Komentar: 0